TANJUNG JABUNG TIMUR, Jambi — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) terus mengganas dan kini hanya berjarak dua hingga tiga kilometer dari kawasan hutan primer tempat harimau sumatera bersarang. Ancaman terhadap satwa langka itu semakin nyata seiring api terus berkobar sejak 9 Agustus 2026.
Kepala Balai TNBS Yunaidi mengatakan, meski titik kebakaran belum menjangkau langsung zona habitat, jarak yang semakin dekat membuat risiko meningkat drastis. Luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 1.000 hektare, meskipun angka tersebut masih menunggu pengukuran resmi.
“Hasil pantauan petugas di lapangan tidak terlalu jauh mungkin batas sekitar dua hingga tiga kilometer dari jarak habitat harimau,” ujar Yunaidi, Selasa.
Habitat dalam Ancaman
Saat ini area yang hangus masih didominasi vegetasi semak belukar, alang-alang, dan tumbuhan paku-pakuan. Namun jika api meluas, potensi kerusakan habitat primer dan populasi harimau menjadi sangat besar. Yunaidi mengakui kekhawatiran ini serius.
“Jika kebakaran terus meluas, habitat satwa yang dilindungi tersebut berpotensi ikut terdampak,” katanya, berharap api tidak merembet lebih jauh.
Asap tebal dari kebakaran juga membawa dampak langsung terhadap kesejahteraan satwa di sekitar lokasi. Hewan yang hidup di kawasan tersebut mengalami kesulitan bernafas akibat polusi udara yang parah. Yunaidi melihat ini sebagai ancaman sekunder namun serius.
“Dia (hewan) butuh udara juga ya, sesak akibat asap itu juga bisa mempengaruhi,” jelasnya.
Harimau Masih Terdeteksi
Di tengah situasi darurat, kehadiran harimau masih terkonfirmasi. Petugas menerima laporan dari seorang pemancing yang mendengar roar harimau pada sore hari. Informasi tersebut dilanjutkan ke petugas Sembilang.
“Kemarin saya ke Sembilang, dari operator di sana dan para pemancing masih mendengar suara harimau,” kata Yunaidi.
Meski suara didengar dan dilaporkan, hingga saat ini tidak ada temuan langsung mengenai satwa yang terdampak kebakaran atau korban di antara populasi harimau. Berdasarkan data pemantauan 2022, sekitar 11 ekor harimau tercatat di kawasan Berbak, menjadi indikasi kepadatan populasi di zona konservasi tersebut.
Hambatan Pemadaman Berlapis
Upaya penyelamatan habitat menghadapi kendala serius. Petugas kesulitan mengakses air di tengah medan yang berat, sementara titik api berada jauh di dalam hutan tanpa akses jalan yang memadai.
“Kesulitan air. Terus titik apinya sulit dijangkau, jauh sekali,” ujar Yunaidi.
Untuk mengatasi keterbatasan itu, pihak Balai TNBS sedang mengupayakan pembangunan embung dengan bantuan alat berat dan mengalirkan air dari sungai terdekat ke lokasi kebakaran. Strategi ini dianggap solusi terbaik mengingat medan yang terisolasi.
Pemadaman terus dilakukan melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan TNI, dengan tujuan utama menahan api agar tidak meluas ke zona hutan primer tempat berkumpul harimau sumatera dan satwa lain yang dilindungi. Setiap hari penting dalam upaya penyelamatan habitat yang semakin terancam ini.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.