CIANJUR — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur mengimbau seluruh warga meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko pergeseran tanah dan longsor ketika musim peralihan dimulai. Peringatan ini disampaikan mengingat pola alam yang konsisten: tanah yang retak saat kemarau akan menjadi labil saat hujan datang.
Samudra Wira Purnama, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Cianjur, menjelaskan mekanisme bahayanya. “Pergeseran tanah kerap terjadi ketika pergantian musim dari kemarau di mana tanah yang pecah-pecah ketika memasuki musim hujan dapat mengakibatkan longsor dan pergeseran tanah di sebagian besar wilayah Cianjur,” ujarnya saat dihubungi Jumat kemarin.
Persoalan ini bukan sekadar ancaman teoretis. Pergerakan tanah sudah menjadi realitas di berbagai kecamatan—Takokak, Kadupandak, Sukanagara, Agrabinta, dan kawasan lain di utara maupun selatan Cianjur mencatat peristiwa serupa.
Wilayah Selatan Paling Rawan
Riset dan pengalaman lapangan menunjukkan Cianjur selatan menjadi zona paling kritis. Wilayah dengan topografi berbukit ini telah berkali-kali mengalami bencana longsor dalam musim hujan sebelumnya. BPBD meminta petugas dan relawan di 32 kecamatan untuk menggandakan pengawasan, khususnya di sektor selatan.
Tanggung jawab mereka mencakup pelaporan dini dan penanganan cepat ketika bencana sudah berlangsung. Sistem monitoring ini dirancang agar respons tidak tertunda-tunda, mengingat kecepatan penanganan bisa menentukan selamat tidaknya warga yang terdampak.
Langkah Pencegahan Dimulai dari Individu
BPBD tidak hanya meminta reaktif, melainkan proaktif. Masyarakat di wilayah rawan diminta memperhatikan kondisi lingkungan sekitar dan “jeli membaca tanda alam” akan terjadi bencana. Inisiatif individu ini krusial karena tidak setiap keretakan tanah atau aliran air yang aneh akan terlihat oleh petugas pemerintah.
Satu langkah konkret: jangan menebang pohon sembarangan di lahan rawan. Akar pohon berfungsi sebagai jangkar alami yang menahan struktur tanah. Ketika pepohonan dihilangkan, sistem daya dukung melemah drastis. Musim hujan tiba, air langsung terserap dalam dan membuat tanah kehilangan kekuatan kohesinya—kondisi ideal untuk longsor.
“Seluruh lapisan masyarakat di wilayah rawan bencana harus memperhatikan lingkungan sekitar agar dapat mengantisipasi bencana alam tidak sampai terjadi salah satunya tidak menebang pohon sembarangan serta menjaga kebersihan lingkungan,” tegas Purnama.
Menjaga kebersihan lingkungan juga berarti membersihkan saluran air alami agar tidak tersumbat. Aliran air yang terhambat akan mencari rute lain, termasuk meresap ke dalam tanah dengan intensitas tinggi—memicu destabilisasi lebih cepat.
Relokasi Masih Tertunda
Dampak pergeseran tanah yang terus meluas di sejumlah desa di wilayah selatan Cianjur telah meninggalkan korban sosial ekonomi. Ribuan keluarga terpaksa tinggal di rumah yang bergeser, atau bahkan harus meninggalkan hunian mereka. Namun rencana relokasi warga masih tersendat.
Pemerintah daerah menunggu anggaran dan dukungan dari pemerintah pusat untuk mengeksekusi program relokasi skala besar. Sementara itu, warga tetap berada di kawasan yang tidak sepenuhnya aman. Kondisi ini menunjukkan betapa penting kesiapan di level lokal dan individu—bantuan pusat mungkin memakan waktu, tetapi kewaspadaan dan pencegahan bisa dimulai hari ini.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.