Sinyal dovish dari The Fed segera direspons positif oleh pasar. Wall Street pada 1 Oktober malam langsung rebound, dengan Dow Jones naik 0,04%, S&P 500 naik 0,20%, dan Nasdaq naik 0,04%. Pasar Asia juga menunjukkan performa cemerlang pagi ini, 2 Oktober, dengan Nikkei Jepang melonjak 3,3% dan Kospi Korea naik 1,95%.
Untuk Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pagi ini masih terkoreksi 0,38% ke 5.986, berpotensi mengalami rebound jika sentimen Fed yang dovish ini bertahan, dengan target uji resisten 6.020-6.040. Sementara itu, nilai tukar rupiah menguat tipis ke Rp17.945 per dolar AS, naik 22 poin. Penguatan ini dibantu oleh harapan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga di Oktober, meskipun dolar AS (DXY) masih stagnan di level tinggi 102,10 dan harga minyak tetap menjadi bayang-bayang.
Jika The Fed benar-benar menahan kenaikan suku bunga di Oktober, tekanan jual oleh investor asing di pasar saham Indonesia bisa mereda, mendorong mereka kembali masuk ke pasar negara berkembang. Hal ini juga akan memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk tidak terburu-buru menaikkan BI Rate, sehingga bisa fokus menjaga stabilitas ekonomi domestik. Pemerintah juga akan mendapatkan keuntungan dari potensi penurunan yield SBN, yang akan meringankan biaya utang di tengah kebutuhan ruang fiskal untuk stimulus seperti bansos beras dan BSU.
Pasar akan mencermati hasil data non-farm payrolls (NFP) AS September malam ini, 2 Oktober, yang diperkirakan akan menunjukkan penambahan 90.000 pekerjaan dengan tingkat pengangguran 4,1%. Jika data ini lemah, peluang The Fed untuk menahan kenaikan suku bunga di Oktober akan semakin kuat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.