Senin, 5 Oktober 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Aasima Jan Lawan Stigma Menstruasi di Pelosok Kashmir

Guru Aasima Jan mengedukasi remaja putri tentang kesehatan reproduksi di Kashmir
Aasima Jan, guru di Kashmir yang aktif mengedukasi masyarakat mengenai kesehatan menstruasi. (Ilustrasi: AI)

BARAMULLA — Guru sekolah pemerintah, Aasima Jan, mendedikasikan waktu liburnya untuk menyambangi desa-desa terpencil di wilayah utara Kashmir. Perempuan berusia 42 tahun ini menjalankan misi edukasi kesehatan reproduksi di tengah masyarakat yang masih menganggap tabu topik menstruasi.

Upaya konsisten ini bahkan membawanya meraih penghargaan Best Teacher Award dari Pemerintah Jammu & Kashmir pada 2023.

Awal Mula Perjuangan di Kelas

Langkah Aasima dimulai saat ia mengajar di Bandipora pada 2009. Saat itu, ia mendapati banyak siswi absen selama sepekan penuh setiap bulannya. Setelah ditelusuri, para orang tua melarang anak perempuan mereka berangkat ke sekolah selama masa menstruasi. Momen puncak terjadi saat ia melihat salah satu siswinya menangis karena rasa malu yang mendalam terkait siklus biologis tersebut.

“Hati saya hancur. Saya merasakan tanggung jawab yang mendalam dan memutuskan untuk melakukan sesuatu,” ujar Aasima. Ia mulai memberikan kelas tambahan di sekolah untuk menjelaskan bahwa menstruasi bukanlah penyakit, melainkan tanda pertumbuhan alami bagi remaja putri. Pendekatan ini terbukti efektif meningkatkan angka kehadiran siswi di kelas secara signifikan.

Jangkau Komunitas Nomaden

Gerakan Aasima meluas hingga ke luar dinding kelas. Setiap hari Minggu atau hari libur, ia mengunjungi desa-desa terpencil seperti Gurez dan Uri, bahkan masuk ke dalam komunitas nomaden Gujjar dan Bakerwal. Aasima berkoordinasi dengan aparat desa setempat untuk mengadakan sesi edukasi bertajuk kesadaran, penerimaan, dan tindakan nyata.

Di banyak titik, Aasima masih menemukan remaja putri yang menggunakan kain sebagai pembalut darurat karena minimnya akses dan pengetahuan. Ia kerap menyisihkan dana pribadi untuk membeli pembalut sekali pakai guna dibagikan secara cuma-cuma kepada siswi di desa-desa tersebut. Selain distribusi fisik, ia memberikan panduan mendetail mengenai cara penggunaan dan pembuangan pembalut yang higienis.

Dampak Edukasi Digital dan Sosial

Peran aktif Aasima tidak berhenti di interaksi fisik saja. Melalui media sosial dengan sekitar 40.000 pengikut, ia terus mengampanyekan kesehatan menstruasi dan berbagai isu sosial lainnya. Baginya, imbalan terbesar bukanlah penghargaan formal yang diterima, melainkan perubahan pola pikir di lapangan.

Melihat para siswinya kini berani menyebarkan informasi positif mengenai kesehatan reproduksi kepada rekan sebaya menjadi bukti keberhasilan perjuangannya. Kehadiran Aasima di pelosok Kashmir membawa perspektif baru bahwa pendidikan kesehatan merupakan hak dasar yang harus dirasakan setiap anak perempuan, terlepas dari keterbatasan geografis maupun norma adat yang selama ini menghambat mereka.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda