Senin, 5 Oktober 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Bagus Khoirunas, fotografer yang dirindukan masyarakat Badui

Kamera DSLR di atas anyaman bambu rumah adat Badui mengenang Bagus Khoirunas
Karya-karya foto Bagus Khoirunas di Kantor Berita dinilai membawa dampak positif bagi eksistensi kebudayaan masyarakat Badui. (Ilustrasi: AI)

LEBAK — Kehilangan mendalam tengah menyelimuti kawasan pedalaman Banten, tempat sosok Bagus Khoirunas, fotografer yang dirindukan masyarakat Badui kini dinanti kepulangannya.

Kabar hilangnya fotografer Kantor Berita ANTARA tersebut dalam kecelakaan saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada 7 September 2026, memicu duka sekaligus harapan besar dari warga adat yang selama bertahun-tahun ia potret dengan penuh takzim.

Bagus merupakan satu dari lima jurnalis yang dilaporkan hilang dalam peristiwa tragis tersebut. Informasi mengenai musibah di laut lepas itu dengan cepat menyebar hingga ke gubuk-gubuk bambu di permukiman Badui melalui tayangan televisi dan percakapan di media sosial.

Jejak Karya yang Menghidupkan Ekonomi Adat

Bagi warga Badui, Bagus bukan sekadar pembawa kamera yang lewat. Selama delapan tahun bertugas di Biro ANTARA Banten, ia konsisten mendokumentasikan denyut nadi kehidupan masyarakat adat mulai dari seni tradisional, kerajinan tenun, budidaya lebah madu, hingga masa panen padi huma.

Kehadiran karya-karya visualnya di media nasional membawa dampak nyata bagi perekonomian warga lokal. Publikasi foto tersebut memicu gelombang kedatangan wisatawan yang penasaran dengan keunikan budaya Badui. Imbasnya, produk kerajinan tangan warga laris manis.

Bahkan, saat musim durian tiba, kawasan permukiman adat kerap macet panjang oleh kendaraan pengunjung yang ingin memborong buah hasil bumi mereka.

“Kami merasa kehilangan mendengar M Bagus mengalami kecelakaan di Selat Sunda hingga kini belum ditemukan,” ujar Sarti, seorang perempuan Badui yang tari jaipongnya pernah diabadikan secara indah oleh Bagus pada 2024 lalu.

Lebih dari Sekadar Pemburu Konten

Kedekatan emosional fotografer kelahiran Bogor tahun 1998 ini dirasakan betul oleh para tetua adat. Jaro Oom, salah satu tokoh adat Badui, mengenang Bagus sebagai jurnalis sejati yang selalu menghormati batasan adat istiadat setempat saat mengambil gambar.

“Bagus bukan kreator konten yang mencari sensasi, melainkan wartawan yang datang tulus meliput kegiatan kami,” kata Jaro Oom. Hubungan erat ini membuat Jaro Oom kerap mengabari Bagus terlebih dahulu jika ada upacara atau ritual penting di desa adat.

Halaman:12Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 5 Oktober 2026: Cara Cek NIK KTP Online