SINGAPURA, JOURNALARTA.COM – Pusat jajan kaki lima terorganisir, hawker centre, telah resmi diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 16 Desember 2020. Ini menjadikannya tradisi street food pertama di dunia yang mendapatkan pengakuan global.
Singapura kini memiliki 124 hawker centre yang menampung lebih dari 14.000 pedagang, menjadi tulang punggung kuliner lokal dengan harga makanan yang terjangkau, berkisar SGD 3-8 per porsi atau sekitar Rp35.000-Rp95.000.
Apa Itu Hawker Centre?
Hawker centre adalah kompleks makanan terbuka atau semi-tertutup yang menyatukan puluhan hingga ratusan kios makanan individual di bawah satu atap, lengkap dengan area tempat duduk komunal dan fasilitas pencucian piring bersama. Berbeda dengan food court mal modern, setiap kios di hawker centre adalah spesialis yang fokus pada satu atau beberapa hidangan, seringkali dengan resep turun-temurun yang telah ditekuni selama puluhan tahun.
Asal-muasal hawker centre bermula dari pedagang kaki lima liar di tahun 1800-an, didominasi imigran Tionghoa, India, dan Melayu yang menjajakan dagangannya di jalanan. Pada era 1970-an, pemerintah Singapura mengambil langkah tegas untuk melarang penjualan di pinggir jalan karena masalah kebersihan dan gangguan lalu lintas. Solusinya adalah mengkonsolidasikan para pedagang ini ke pusat-pusat yang terorganisir, berlisensi, dan memiliki sanitasi layak. Sewa kios di hawker centre juga disubsidi oleh National Environment Agency (NEA), yang hingga tahun 2026 mengelola 124 hawker centre di seluruh pulau.
Lebih dari sekadar tempat makan, hawker centre berfungsi sebagai community dining room atau ruang makan komunal. Di sini, orang-orang dari berbagai latar belakang, pendapatan, dan etnis dapat duduk bersama, berbagi meja, dan menikmati hidangan yang sama. Konsep komunal dan inklusif inilah yang sangat dihargai oleh UNESCO dalam pengakuannya.
Hawker Culture, Bukan Sekadar Resep
Pengakuan UNESCO terhadap “Hawker Culture in Singapore” masuk ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Yang diakui bukanlah resep makanan spesifik, melainkan praktik sosialnya: bagaimana masyarakat Singapura mengantre bersama, berbagi ruang makan, dan bagaimana pengetahuan kuliner ditransmisikan lintas generasi. Ini mencakup beragam hidangan ikonik seperti Hainanese Chicken Rice, Laksa, Char Kway Teow, Roti Prata, Nasi Lemak, dan Satay.
Harga makanan yang sangat terjangkau di hawker centre, antara SGD 3-8, disebabkan oleh sewa kios yang disubsidi pemerintah. Para pedagang bekerja keras dengan margin keuntungan yang sederhana, secara efektif mensubsidi harga makanan dengan tenaga mereka sendiri. Hal ini menjadi salah satu alasan biaya hidup di Singapura bagi warga lokal lebih rendah dibandingkan persepsi global. Di hawker centre, pembeli tidak perlu membayar tip, service charge, maupun GST (pajak barang dan jasa). Pembayaran umumnya dapat dilakukan secara tunai, atau melalui sistem pembayaran digital seperti NETS, PayNow, dan EZ-Link.
Beberapa kios di hawker centre bahkan telah mendapatkan pengakuan internasional, termasuk predikat Michelin Bib Gourmand, dan dua di antaranya pernah meraih bintang Michelin, salah satunya Hawker Chan Liao Fan Soya Sauce Chicken Rice, yang dikenal sebagai nasi ayam bintang Michelin termurah di dunia dengan harga mulai dari SGD 2,5.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.