IRGC, pada Sabtu, 4 Oktober, bahkan mengeluarkan peringatan radio di saluran publik, menginstruksikan kapal-kapal untuk tidak mempercayai Angkatan Laut AS dan tidak menggunakan koridor selatan di Selat Hormuz.
Dampak Geopolitik dan Perang di Timur Tengah
Serangan ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik pasca-perang AS-Israel melawan Iran. Sejak 28 Februari 2026, Iran telah memperketat Selat Hormuz, melarang kapal milik atau terafiliasi Israel dan AS, menyusul serangan bersama AS-Israel ke wilayah Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah komandan senior.
Sebelum konflik, Selat Hormuz menangani sekitar 125 kapal komersial besar per hari. Volume ekspor minyak dari Timur Tengah sempat anjlok setelah perang, namun mulai rebound pada akhir September, mencapai 19,5-22,5 juta barel per hari (bpd) — di atas rata-rata pra-perang 18 juta bpd. Pemulihan ini didukung oleh perlindungan Angkatan Laut AS dan sistem ‘shuttle runs’ UEA, di mana tanker memuat minyak di Teluk Persia, keluar Hormuz, dan memindahkannya ke kapal lain yang menunggu di luar jalur air. Namun, gelombang serangan terbaru ini mengancam pemulihan tersebut.
Harga Minyak Dunia Melonjak, BBM Indonesia Masih Bertahan
Ketegangan di Selat Hormuz langsung berdampak pada pasar energi global. Pada 5 Oktober 2026, minyak mentah Brent tercatat US$102,25 per barel, menunjukkan kenaikan signifikan meskipun sempat sedikit terkoreksi dari puncak sesi sebelumnya. Sementara itu, WTI Crude berada di US$91,11 per barel.
Di Indonesia, harga BBM Pertamina dan swasta kompak tidak berubah mengacu pada penetapan 2 September 2026. Pertalite tetap Rp10.000, Biosolar Rp6.800, dan Pertamax Rp15.950. Namun, ada potensi harga BBM domestik naik 10-15% pada pekan depan jika harga Brent bertahan di atas US$100 dan situasi di Selat Hormuz terus tidak aman. Kenaikan ini bisa memicu inflasi logistik dan gangguan rantai pasok.
Donald Trump, pada 4 Oktober 2026 di Texas, sempat mengklaim bahwa perang dengan Iran akan segera berakhir dan harga minyak akan “jatuh seperti batu”. Ia menggambarkan militer dan ekonomi Iran sangat lemah. Namun, klaim ini dibantah oleh Fars, yang melaporkan serangan IRGC terhadap lebih dari satu tanker per hari meski ada klaim Trump.
Gejolak ini juga sejalan dengan operasi militer di Yaman yang melibatkan Arab Saudi dan kelompok Houthi, yang kini menguasai Bab el-Mandeb, jalur strategis pengiriman minyak. Sementara itu, OPEC+ mempertahankan kuota produksi di tengah gangguan pasokan, dan negara-negara G7 telah melepaskan cadangan minyak darurat untuk menstabilkan harga diesel yang mencapai rekor tertinggi.
Kondisi di Selat Hormuz yang kritis, menyalurkan seperempat minyak dunia, berarti setiap insiden memiliki dampak global. Serangan terhadap tujuh tanker adalah sinyal kuat dari IRGC bahwa mereka tidak ragu untuk mengganggu jalur vital ini, terutama bagi kapal yang dianggap melanggar aturan Iran. Ini menjadi perhatian serius bagi kestabilan harga energi dan ekonomi global.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.