Cliff Wootton menemukan kesempatan untuk memperlihatkan koleksi ayahnya saat mengunjungi Battle Abbey, bangunan abad pertengahan yang berdiri di lokasi pertempuran dan kini dikelola English Heritage. Organisasi itu lalu memilih sebagian rekaman untuk disusun menjadi film pendek.
James Witcombe, pengelola lokasi Battle Abbey, mengatakan ia terkesan saat pertama kali melihatnya. “When Cliff showed me the footage, I was blown away by it, it was really, really impressive,” ujarnya.
Bagi Witcombe, rekaman itu menunjukkan acara yang dibuat para amatir dan dijalani dengan penuh kesenangan. Ia mengakui tontonan tersebut terasa berbeda jika dilihat dari sudut pandang masa kini, terutama karena batas keselamatan belum seperti yang diterapkan sekarang.
Perbedaan itu penting bagi pengunjung dan penyelenggara. Reka ulang sejarah tetap menawarkan pengalaman yang meriah, tetapi benturan fisik dalam film lama memperlihatkan mengapa batas keselamatan perlu dijaga agar peserta tidak terluka.
Witcombe mengatakan English Heritage ingin mempertahankan suasana akrab dan semangat bermain, sembari memastikan acara berlangsung dengan pengamanan yang lebih baik.
Reka ulang kini lebih ketat soal detail sejarah
Acara yang bermula dari pertunjukan mahasiswa itu kemudian berkembang menjadi agenda tahunan yang menarik ribuan pengunjung. Penonton masa kini masih kerap mendukung kubu setempat, meski Witcombe menilai suasananya tidak separtisan dulu.
Menurut Witcombe, para peserta reka ulang masa kini memberi perhatian lebih besar pada keaslian kostum dan praktik sejarah. Mereka juga menggunakan pendekatan arkeologi eksperimental: mencoba pengalaman langsung untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan pada masa lampau.
English Heritage memperkirakan 1.000 peserta akan ikut dalam acara tahun ini. Pertunjukan penuh dijadwalkan berlangsung setiap hari pada 10 dan 11 Oktober, dengan hasil cerita tetap mengikuti sejarah, bukan berubah demi penonton yang mendukung Inggris.
Minat pada sejarah Norman juga meningkat, menurut laporan sumber, seiring kehadiran Permadani Bayeux di London. English Heritage berharap jumlah pengunjung akan besar dan mengundang orang-orang yang terlibat dalam acara pertama pada 1966 untuk datang kembali.
Kenangan Sampson menutup kisah itu dengan nada yang lebih hangat daripada keributan di lapangan: “We cracked them open and then sat down with the Kent lads and lasses, and in the warm afternoon sunshine, just discussed the events of the day. So it became very friendly at the end of the day.”

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.