Beberapa jenis BBM Shell, seperti Shell Super dan V-Power Bensin, bahkan belum tersedia di SPBU Indonesia sejak 26 September, sementara Shell hanya menjual diesel.
Stabilitas Harga Subsidi Hingga Akhir Tahun
Pemerintah telah memastikan bahwa harga BBM subsidi, yakni Pertalite dan Biosolar, tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026. Ini merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Subsidi energi yang digelontorkan APBN telah mencapai Rp331,4 Triliun hingga 31 Agustus 2026. Angka ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam menahan laju inflasi dan menjaga agar beban masyarakat tidak bertambah di tengah ketidakpastian harga komoditas global.
Analisis Minyak Dunia dan Potensi Kenaikan Nonsubsidi
Meskipun harga BBM subsidi ditahan, dinamika harga minyak mentah dunia tetap menjadi perhatian. Harga Brent sempat menyentuh $114,89 per barel pada 3 Oktober dan saat ini berkisar $100-$102 per barel. Kurs rupiah juga menunjukkan pelemahan di angka Rp17.900 terhadap dolar AS.
Berdasarkan formula Keputusan Menteri ESDM 245/2024, Pertamax seharusnya berpotensi naik jika harga Brent bertahan di atas $95 dan kurs melemah. Dengan kondisi saat ini, estimasi kenaikan untuk BBM nonsubsidi seperti Pertamax adalah Rp400-Rp600 per liter.
Namun, untuk bulan Oktober ini, pemerintah memilih untuk menahan harga. Evaluasi lebih lanjut diprediksi akan dilakukan pada 1 November 2026, dengan mempertimbangkan berbagai faktor termasuk stok minyak Amerika Serikat.
Bagi warga Palembang, kebijakan harga BBM subsidi yang stabil ini memberikan kepastian. Untuk kendaraan seperti motor injeksi 110cc, Pertalite masih menjadi pilihan ekonomis dengan kuota 20 liter per hari melalui MyPertamina. Sementara mobil LCGC atau Avanza juga masih dapat menggunakan Pertalite. Alternatif BBM yang lebih berkualitas seperti Pertamax Green 95, sudah tersedia di beberapa SPBU, termasuk di area Jakabaring.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.