Rabu, 7 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Proyeksi Saham Boy Thohir AADI, ADRO hingga ADMR, Bakal Tersengat Santa Rally?

Proyeksi Saham Boy Thohir AADI, ADRO hingga ADMR, Bakal Tersengat Santa Rally?
Proyeksi Saham Boy Thohir AADI, ADRO hingga ADMR, Bakal Tersengat Santa Rally?

JAKARTA — Saham AADI sudah melonjak 73,48% sejak awal tahun, sementara ADRO menguat 44,20%. Dengan Santa Rally mulai diperhitungkan pasar, investor kini mencermati apakah penguatan saham Grup Adaro masih berlanjut hingga akhir tahun.

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry menilai AADI, ADRO, dan ADMR masih memiliki ruang tumbuh. Namun, penggeraknya bukan sekadar reli musiman: fundamental perusahaan, prospek harga komoditas, dan arus dana ke saham energi ikut menjadi pertimbangan.

Proyeksi saham Boy Thohir dan target harga

Pergerakan ketiga saham itu tidak seragam. AADI dan ADRO mencetak kenaikan secara year to date (ytd), sedangkan ADMR masih terkoreksi 3,53% sejak awal Januari tahun ini.

“Saya masih melihat prospek positif sampai akhir tahun, ditopang fundamental grup, harga komoditas dan ekspektasi capital flow ke saham energi,” kata Elandry kepada Katadata, Selasa (6/10).

Elandry melihat AADI paling menarik dari sisi arus kas dan potensi dividen. Ia memasang target harga saham AADI di kisaran Rp 14.000-15.000 per saham. Bagi investor, penilaian itu menempatkan kemampuan menghasilkan kas sebagai salah satu hal penting untuk diperhatikan, bukan hanya kenaikan harga saham.

ADRO memiliki katalis dari diversifikasi bisnis, terutama pengembangan bisnis aluminium. Elandry memperkirakan saham ini memiliki target harga Rp 3.000-3.300.

Untuk ADMR, prospek pertumbuhan bertumpu pada bisnis batu bara metalurgi dan smelter aluminium. Target harga yang disebut Elandry berada di kisaran Rp 1.900-2.100, dengan catatan volatilitas sahamnya lebih tinggi.

Fundamental emiten menopang kinerja saham

Catatan harga saham Grup Adaro berlawanan dengan sejumlah saham konglomerasi lain yang melemah sepanjang tahun ini. Saham BRPT turun 54,13% ytd, BREN merosot 69,59%, dan TPIA terkoreksi 74,86%.

Pada kelompok Salim, INDF naik 1,48%, sementara ICBP turun 17,07%. AMMN juga terperosok 30,74%. Saham BUMI dan BRMS dari Grup Bakrie masing-masing merosot 49,45% dan turun 45% secara ytd.

Perbedaan kinerja ini penting bagi investor karena menunjukkan bahwa pergerakan saham konglomerasi tidak selalu searah. Untuk saham Grup Adaro, bahan sumber mengaitkan penguatan dengan fundamental emiten serta ekspektasi terhadap komoditas yang menjadi tumpuan bisnis masing-masing perusahaan.

Hasil keuangan semester pertama tahun ini memberi gambaran tentang kinerja ketiga emiten. AADI mencatat laba bersih US$ 473,76 juta atau setara Rp 8,47 triliun, naik 10,51% dari US$ 428,68 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan AADI meningkat menjadi US$ 2,54 miliar dari US$ 2,39 miliar.

Penjualan batu bara kepada pihak ketiga menyumbang US$ 2,22 miliar, naik tipis dari US$ 2,20 miliar secara tahunan. Namun, komposisi penjualannya berbeda: ekspor tercatat US$ 1,82 miliar, turun sekitar 2,03% dari US$ 1,86 miliar, sedangkan penjualan domestik naik 16,49% menjadi US$ 400,43 juta dari US$ 343,75 juta.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan pendapatan AADI berjalan bersama perubahan pada pasar penjualan. Penjualan domestik tumbuh, sementara ekspor batu bara kepada pihak ketiga melemah. Pendapatan logistik kepada pihak ketiga juga turun menjadi US$ 21,85 juta dari US$ 23,32 juta, sedangkan pendapatan lain-lain turun menjadi US$ 6,72 juta dari US$ 8,09 juta.

Laba ADRO dan ADMR ikut meningkat

ADRO membukukan laba bersih US$ 309,36 juta, naik 76,83% dari US$ 174,94 juta pada periode sebelumnya. Pendapatan perseroan meningkat menjadi US$ 999,24 juta dari US$ 857,69 juta secara tahunan.

Penjualan hasil tambang kepada pihak ketiga mencapai US$ 370,27 juta, meningkat 58,15% dari US$ 234,11 juta. Penjualan domestik menyumbang US$ 244,95 juta, sementara penjualan ekspor naik 40,42% menjadi US$ 125,32 juta. ADRO juga mencatat pendapatan US$ 210,12 juta dari penjualan hasil tambang kepada pihak berelasi.

Jasa pertambangan tetap menjadi sumber pendapatan besar bagi ADRO. Segmen itu menghasilkan US$ 397,30 juta pada semester pertama 2026, naik tipis dari US$ 393,79 juta setahun sebelumnya. Perkembangan bisnis aluminium yang menjadi katalis saham ADRO perlu dibaca bersama sumber pendapatan yang sudah berjalan ini.

ADMR membukukan laba bersih US$ 174,17 juta hingga akhir Juni 2026, naik dari US$ 140,49 juta secara tahunan. Pendapatan perseroan juga meningkat menjadi US$ 583,87 juta dari US$ 443,94 juta.

Pendorongnya antara lain kenaikan penjualan hasil tambang kepada pihak ketiga menjadi US$ 370,27 juta dari US$ 234,11 juta. Pendapatan dari pihak berelasi naik menjadi US$ 213,61 juta dari US$ 209,83 juta, terdiri atas penjualan hasil tambang US$ 211,54 juta dan jasa lainnya US$ 2,07 juta.

Elandry mengingatkan bahwa penguatan saham Grup Adaro tidak semata-mata bergantung pada Santa Rally. Ia mengaitkannya dengan kombinasi fundamental perusahaan, prospek harga komoditas, dan sentimen pasar terhadap sektor energi.

Bagi investor, target harga dan kinerja semester pertama menjadi bahan pertimbangan, sementara arah komoditas dan arus dana tetap menentukan apakah optimisme itu bertahan hingga akhir tahun.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair