JAKARTA — Saham AADI sudah melonjak 73,48% sejak awal tahun, sementara ADRO menguat 44,20%. Dengan Santa Rally mulai diperhitungkan pasar, investor kini mencermati apakah penguatan saham Grup Adaro masih berlanjut hingga akhir tahun.
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry menilai AADI, ADRO, dan ADMR masih memiliki ruang tumbuh. Namun, penggeraknya bukan sekadar reli musiman: fundamental perusahaan, prospek harga komoditas, dan arus dana ke saham energi ikut menjadi pertimbangan.
Proyeksi saham Boy Thohir dan target harga
Pergerakan ketiga saham itu tidak seragam. AADI dan ADRO mencetak kenaikan secara year to date (ytd), sedangkan ADMR masih terkoreksi 3,53% sejak awal Januari tahun ini.
“Saya masih melihat prospek positif sampai akhir tahun, ditopang fundamental grup, harga komoditas dan ekspektasi capital flow ke saham energi,” kata Elandry kepada Katadata, Selasa (6/10).
Elandry melihat AADI paling menarik dari sisi arus kas dan potensi dividen. Ia memasang target harga saham AADI di kisaran Rp 14.000-15.000 per saham. Bagi investor, penilaian itu menempatkan kemampuan menghasilkan kas sebagai salah satu hal penting untuk diperhatikan, bukan hanya kenaikan harga saham.
ADRO memiliki katalis dari diversifikasi bisnis, terutama pengembangan bisnis aluminium. Elandry memperkirakan saham ini memiliki target harga Rp 3.000-3.300.
Untuk ADMR, prospek pertumbuhan bertumpu pada bisnis batu bara metalurgi dan smelter aluminium. Target harga yang disebut Elandry berada di kisaran Rp 1.900-2.100, dengan catatan volatilitas sahamnya lebih tinggi.
Fundamental emiten menopang kinerja saham
Catatan harga saham Grup Adaro berlawanan dengan sejumlah saham konglomerasi lain yang melemah sepanjang tahun ini. Saham BRPT turun 54,13% ytd, BREN merosot 69,59%, dan TPIA terkoreksi 74,86%.
Pada kelompok Salim, INDF naik 1,48%, sementara ICBP turun 17,07%. AMMN juga terperosok 30,74%. Saham BUMI dan BRMS dari Grup Bakrie masing-masing merosot 49,45% dan turun 45% secara ytd.
Perbedaan kinerja ini penting bagi investor karena menunjukkan bahwa pergerakan saham konglomerasi tidak selalu searah. Untuk saham Grup Adaro, bahan sumber mengaitkan penguatan dengan fundamental emiten serta ekspektasi terhadap komoditas yang menjadi tumpuan bisnis masing-masing perusahaan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.