Rabu, 7 Oktober 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Riset Suplemen Kolagen untuk Kulit Dinilai Penuh Celah

Suplemen kolagen dalam bubuk dan minuman untuk kesehatan kulit
Telaah peneliti menilai bukti manfaat suplemen kolagen untuk penuaan kulit masih memiliki banyak keterbatasan. (Ilustrasi: AI)

Ukuran dan rancangan uji klinis juga berbeda-beda. Penelitian melibatkan kelompok usia yang tidak sama, memakai dosis harian beragam, dan berlangsung dalam durasi berbeda. Dalam salah satu meta-analisis yang ditinjau, dosis kolagen berkisar dari 0,3 hingga 10 gram per hari—selisih lebih dari 30 kali lipat.

Perbedaan sebesar itu menyulitkan perbandingan langsung. Sebagian uji juga menggabungkan kolagen dengan bahan bioaktif lain. Jika kondisi kulit berubah, peneliti jadi lebih sulit memastikan apakah perubahan itu berasal dari kolagen atau bahan tambahan.

“Penyertaan agen aktif lain bersama kolagen dapat memengaruhi hidrasi, elastisitas, atau tampilan kulit, baik secara positif maupun negatif,” jelas Grimes dan Mahto. Mereka menilai analisis terdahulu belum cukup memperhitungkan keterbatasan tersebut.

Suplemen kolagen belum layak jadi perawatan rutin

Kolagen terhidrolisis dipecah menjadi peptida agar lebih mudah larut dan kemungkinan lebih mudah dicerna. Namun, pertanyaan pentingnya belum terjawab: seberapa banyak bahan yang dikonsumsi benar-benar mencapai kulit dan memberi efek yang dijanjikan? Sejumlah penelitian pada hewan memberi petunjuk, tetapi riset pada manusia masih kurang.

Uji acak yang tersedia juga umumnya berlangsung singkat, sekitar 8 hingga 12 minggu. Desain plasebo menjadi tantangan lain. Kolagen memiliki rasa dan tekstur khas; jika peserta dapat membedakan produk yang mereka konsumsi, mereka mungkin mengetahui apakah mendapat kolagen atau plasebo. Itu dapat melemahkan hasil uji.

Bagi konsumen, celah bukti ini berarti klaim pemasaran belum tentu setara dengan manfaat yang sudah teruji secara kuat.

Produk kolagen semakin sering dipromosikan untuk kesehatan kulit, sementara dokter kulit, menurut Mahto, semakin banyak menghadapi pasien yang memakai atau bertanya tentang suplemen tersebut.

Karena itu, keputusan membeli sebaiknya tidak hanya bertumpu pada popularitas produk atau promosi figur publik.

Grimes dan Mahto menyarankan agar suplemen kolagen belum dimasukkan ke dalam perawatan dermatologi rutin sampai tersedia uji yang lebih ketat.

Mereka juga meminta asosiasi dermatologi nasional, termasuk British Association of Dermatologists dan European Academy of Dermatology and Venereology, serta regulator terkait mempertimbangkan panduan agar klinisi tidak mendukung penggunaannya untuk penuaan kulit tanpa bukti independen berkualitas tinggi.

Untuk saat ini, penilaian manfaat kolagen masih menunggu penelitian yang lebih kuat dan lebih independen. Sampai bukti semacam itu tersedia, para peneliti menilai rekomendasi klinis untuk suplemen kolagen belum memiliki dasar yang memadai.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 7 Oktober 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir