Perbandingan rumah terjangkau Singapura dan Jakarta
Ukuran yang digunakan Sing adalah rasio harga rumah terhadap pendapatan tahunan rumah tangga median. Makin kecil rasio, makin rendah harga rumah dibandingkan pendapatan tahunan dalam perbandingan tersebut.
| Jenis hunian atau kota | Rasio terhadap pendapatan tahunan median |
|---|---|
| HDB Singapura | 4,7 kali |
| Rumah tapak Jakarta | 25,9 kali |
| Apartemen Jakarta | 8,3 kali |
| Shenzhen | 35 kali |
| Ho Chi Minh City | 32,5 kali |
| Da Nang | 26,7 kali |
Rasio tersebut bukan jumlah gaji bulanan yang perlu disisihkan. Angka 25,9 kali, misalnya, berarti harga rumah tapak Jakarta setara sekitar 25,9 kali pendapatan tahunan rumah tangga median. Perbedaan ukuran ini penting agar angka tidak disalahartikan sebagai lamanya seseorang harus menabung untuk membeli rumah.
Untuk warga Jakarta, jarak antara rasio rumah tapak dan HDB memberi gambaran tentang beratnya tantangan kepemilikan rumah. Apartemen memiliki rasio lebih rendah daripada rumah tapak di Jakarta, tetapi tetap lebih tinggi dibandingkan rasio HDB yang dipaparkan Sing. Ia juga mengingatkan bahwa hunian di luar Jakarta masih dapat terjangkau, tetapi kualitasnya belum tentu memenuhi harapan.
“Di Jakarta, butuh 26 kali pendapatan untuk punya rumah, apartemen 8,3 kali pendapatan. Jadi cukup mahal,” kata Sing. Angka rumah tapak yang ia sebut dalam kutipan itu dibulatkan dalam penyampaian, sementara indeks ULI mencatatnya sebesar 25,9 kali.
Subsidi, tabungan CPF, dan batas pendapatan
Dukungan pembiayaan menjadi bagian penting dari model Singapura. Sejak 1968, pemerintah memungkinkan warga menggunakan tabungan Central Provident Fund (CPF) untuk membantu membayar rumah. Skema itu kemudian dilengkapi CPF Housing Grant dan pinjaman HDB.
Bantuan juga disesuaikan dengan kondisi pendapatan. Pemerintah tidak membagikan subsidi dalam besaran yang sama untuk semua orang, melainkan mengarahkannya kepada kelompok yang membutuhkan. Kebijakan batas pendapatan pun ikut disesuaikan untuk membuka akses bagi lebih banyak warga.
Batas pendapatan untuk membeli rumah HDB bersubsidi dinaikkan dari S$14.000 menjadi S$16.000 per bulan. Sementara itu, batas untuk membeli Executive Condominium (EC) berubah dari S$16.000 menjadi S$18.000 per bulan. Menurut Sing, kenaikan batas dari S$16.000 menjadi S$18.000 membuat sekitar 10 persen lebih banyak masyarakat memenuhi syarat mengakses perumahan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.