Jumat, 9 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Menakar Investasi Rp4,48 T Danantara di HighPeak, Seberapa Besar Imbal Hasilnya?

Investasi Danantara di HighPeak dan aktivitas hulu migas Permian Basin
Aktivitas produksi minyak dan gas di Permian Basin, kawasan operasi HighPeak Energy. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Investasi Danantara di HighPeak Energy senilai US$ 250 juta atau Rp 4,48 triliun diproyeksikan menghasilkan imbal hasil tetap sekitar 6%–7% per tahun. Dana itu masuk ke perusahaan hulu migas asal Amerika Serikat melalui saham preferen konvertibel yang diterbitkan secara bertahap.

Skema pembayaran berkala menjadi salah satu pertimbangan penting. Danantara berpeluang menerima arus kas sebelum akhir tahun, sementara investasi itu juga membuka akses pada teknologi dan pengalaman industri migas global.

Investasi Danantara di HighPeak dan skema imbal hasil

Danantara menanamkan modal melalui PT Danantara Investment Management (DIM). Instrumen yang dipilih adalah saham preferen konvertibel, yaitu saham preferen yang dapat dikonversi, dengan imbal hasil tetap yang diproyeksikan sekitar 6%–7% per tahun.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai skema tersebut dapat membantu mengendalikan risiko investasi. Pembayaran periodik, menurutnya, memberi kepastian arus kas tanpa harus menunggu sampai tutup tahun.

“Nantinya kalau nunggu setahun kan agak sulit gitu ya. Tapi kalau kemudian nggak sampai setahun, kemudian cash flownya masuk, saya kira itu lebih baik,” kata Komaidi kepada Katadata.co.id, Jumat (9/10).

Pendapatan yang masuk lebih cepat dapat membuat aliran kas investasi lebih terukur. Namun, angka 6%–7% dalam bahan investasi ini disebut sebagai proyeksi imbal hasil, bukan jaminan bahwa hasil akhirnya pasti berada pada tingkat tersebut.

HighPeak berbasis di Texas dan menjalankan kegiatan akuisisi, pengembangan, eksplorasi, serta eksploitasi minyak dan gas bumi. Perusahaan itu beroperasi di Permian Basin, kawasan penghasil minyak yang menyumbang 48% dari total produksi minyak mentah Amerika Serikat selama 2025.

Akses teknologi menjadi pertimbangan strategis

Bagi Indonesia, kepentingan investasi ini tidak berhenti pada potensi imbal hasil finansial. Keterlibatan di perusahaan yang beroperasi di Permian Basin berpotensi membuka akses bagi Danantara terhadap pengetahuan, pengalaman, jaringan, dan teknologi hulu migas yang berkembang di kawasan tersebut.

Akses semacam itu dapat mendukung peningkatan kemampuan operasional sektor hulu migas Indonesia apabila pengetahuan dan teknologi yang relevan bisa dimanfaatkan di dalam negeri. Manfaatnya tetap bergantung pada bagaimana kemitraan dijalankan dan sejauh mana transfer pengetahuan benar-benar berlangsung.

Komaidi menilai aspek finansial dan peluang teknologinya sama-sama memiliki nilai strategis. “Dari aspek finansialnya, saya kira prudent. Dari aspek teknologi maupun operasional hulu migas, juga ada beberapa hal yang strategis, salah satunya mengenai kemungkinan nanti alih teknologi apabila suatu waktu kita perlu,” ujar dia.

Investasi lintas negara ini juga memperlihatkan pilihan untuk menambah eksposur portofolio Danantara ke sektor energi di luar Indonesia. Bagi keuangan negara, hasil investasi dan potensi akses teknologi menjadi dua hal yang akan menentukan manfaat jangka panjangnya; proyeksi imbal hasil saja belum menggambarkan seluruh hasil investasi.

Strategi global dan arah investasi nasional

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan pemerintah menilai investasi bukan hanya dari besarnya modal yang masuk. Kualitas, keberlanjutan, dampak ekonomi, serta penciptaan lapangan kerja berkualitas juga menjadi pertimbangan.

Rosan menyebut realisasi investasi pada semester pertama 2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun, tumbuh 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Investasi itu menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja langsung, belum termasuk pekerja pendukung dan aktivitas investasi lainnya.

Kontribusi hilirisasi terhadap realisasi investasi nasional, menurut Rosan, kini berada di level 30%, naik dari 25%. Ia mengatakan investasi hilirisasi masih didominasi sektor mineral, tetapi diperkirakan meluas ke perkebunan dan kelautan.

Sekitar 75% investasi hilirisasi berada di luar Pulau Jawa. Adapun porsi investasi dari dalam dan luar negeri disebut relatif berimbang, masing-masing sekitar 50%.

Presiden Prabowo Subianto pada Februari menyelenggarakan Presidential Forum on Strategic Capital & Partnership di Washington, D.C. Forum itu mempertemukan pimpinan senior sejumlah institusi investasi Amerika Serikat untuk mendorong kemitraan permodalan dan memperdalam kolaborasi investasi jangka panjang dengan Indonesia.

Rosan menyebut strategi Danantara mencakup penguatan eksposur global melalui kemitraan dengan pengelola dana terkemuka. Ia mengatakan pendekatan itu dapat memperluas akses ke jaringan investasi, teknologi, dan keahlian manajerial, sambil mengarahkan alokasi modal pada sektor prioritas dan penciptaan nilai di dalam negeri.

Dalam Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10), Rosan mengatakan, “Kalau dulu di level 25% dari total investasi, sekarang sudah di level 30%, close to 30% actually come from hilirisasi.”

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair