Defisit APBN dan subsidi energi ikut dicermati
Pemerintah melaporkan defisit APBN hingga September sebesar Rp319 triliun atau 1,24% terhadap produk domestik bruto. Angka dalam konferensi pers APBN KiTa edisi September 2026 itu berasal dari pendapatan negara Rp2.341,5 triliun dan belanja negara Rp2.660,5 triliun.
“Ini on track. Kita menuju pelaksanaan APBN yang memang didesain untuk defisit,” ujar Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam konferensi pers APBN KiTa, Jumat (9/10/2026).
Realisasi subsidi dan kompensasi mencapai Rp376,8 triliun hingga September, setara 84,3% dari alokasi APBN. Nilainya meningkat 54,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, saat realisasi tercatat Rp244,6 triliun.
Suahasil menjelaskan realisasi tersebut dipengaruhi pergerakan harga minyak mentah Indonesia atau ICP, nilai tukar rupiah, serta peningkatan konsumsi energi bersubsidi. Bagi investor, besarnya realisasi subsidi menjadi salah satu hal yang diperhatikan saat menilai kebutuhan pembiayaan pemerintah hingga akhir tahun, terutama ketika harga energi dan kurs bergerak.
Konsumsi domestik masih tumbuh
Data BI menunjukkan Indeks Penjualan Riil Agustus 2026 mencapai 226,5, tumbuh 1,3% secara tahunan. Pertumbuhan itu lebih tinggi daripada Juli, yang tercatat 1,1%.
BI memperkirakan penjualan eceran pada September tumbuh 1,4% secara tahunan. Aktivitas belanja yang tetap bertumbuh memberi dukungan bagi prospek ekonomi domestik, sementara pasar terus memantau bagaimana kebijakan moneter, kondisi fiskal, dan nilai tukar bergerak bersama.
Rupiah mengakhiri sesi Jumat dengan penguatan yang lebih tipis daripada saat pembukaan. Investor selanjutnya mencermati perkembangan kebijakan BI, realisasi APBN, dan data ekonomi yang menjadi petunjuk bagi arah pasar.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.