Selisih produksi 2025 dengan capaian 2021 mencapai sekitar 125.513 ton. Jadi, pertumbuhan tahunan terbaru belum menghapus penurunan yang terjadi setelah produksi berada di level tertingginya.
Perubahan produksi itu juga berkaitan dengan kondisi peternakan sapi perah. BPS mencatat populasi sapi perah pada 2025 sebanyak 499.360 ekor, naik 1,79% dari 490.592 ekor pada 2024. Populasi mulai pulih setelah mencapai titik terendah 464.021 ekor pada 2023.
Namun, jumlah sapi perah pada 2025 masih 14,2% di bawah level 2021, yang mencapai 582.169 ekor. Pemulihan populasi dan produksi berjalan, tetapi keduanya belum kembali ke capaian sebelumnya. Itu tantangan di sisi hulu.
Impor susu sudah mencapai Rp 12,12 triliun
Kementerian Pertanian menyatakan produksi susu segar dalam negeri baru memenuhi sekitar 20% kebutuhan nasional. Pemerintah menargetkan penambahan sedikitnya 600 ribu ekor sapi perah indukan hingga 2029, menurut bahan sumber.
Kesenjangan antara produksi domestik dan kebutuhan membuat impor menjadi bagian penting dari pasokan. BPS mencatat impor susu Indonesia pada Januari-Juli 2026 mencapai 221.762 ton, dengan nilai US$ 678 juta atau sekitar Rp 12,12 triliun. Perhitungan rupiah dalam data sumber menggunakan kurs US$1- Rp 17.875.
Volume impor selama tujuh bulan pertama 2026 itu hampir menyamai volume impor sepanjang 2025, menurut bahan sumber. Kondisi ini menempatkan pemulihan produksi lokal dan rencana penambahan sapi indukan sebagai isu pasokan, bukan sekadar angka peternakan.
Bagi industri pengolahan, terbatasnya produksi lokal berarti bahan baku masih harus ditopang pasokan impor. Bagi konsumen, ketersediaan susu di pasar berkaitan dengan kemampuan rantai pasok memenuhi kebutuhan, sementara produsen dalam negeri perlu memperkuat kapasitas agar kontribusinya dapat meningkat.
Angka impor terbaru yang dicatat BPS mencapai 221.762 ton pada Januari-Juli 2026.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.