Minggu, 11 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Selat Hormuz Sudah Terbuka, Kenapa Harga BBM Masih Mahal?

Selat Hormuz Sudah Terbuka, Kenapa Harga BBM Masih Mahal?
Selat Hormuz Sudah Terbuka, Kenapa Harga BBM Masih Mahal?

JAKARTA — Selat Hormuz sudah kembali dilalui minyak, tetapi harga BBM belum ikut turun. Biaya kapal tanker dan asuransi yang melonjak membuat minyak dari Teluk Persia jauh lebih mahal untuk dikirim ke pasar.

Dampaknya terasa di berbagai negara, dari pengemudi hingga petani yang bergantung pada bahan bakar. Di Amerika Serikat, harga bensin rata-rata mencapai US$4,36 per galon atau setara Rp20.607 per liter berdasarkan kurs Rp17.891.

Angka itu belum pernah setinggi ini pada periode yang sama dalam setahun, menurut data AAA yang dikutip CNN pada Jumat (9/10). Jalur pelayaran memang kembali terbuka, tetapi kapal masih menghadapi ancaman.

Selat Hormuz terbuka, ongkos kapal melonjak

UK Maritime Trade Operations melaporkan sejumlah kapal dagang terkena proyektil di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Setidaknya dua di antaranya merupakan tanker minyak mentah.

Risiko keamanan itu mendorong biaya pengangkutan naik tajam. Data Clarksons menunjukkan ongkos sewa kapal tanker raksasa atau Very Large Crude Carrier (VLCC) dari Teluk Persia ke China mencapai US$1,6 juta (Rp28,6 miliar) per hari. Pada tahun lalu, tarifnya hanya US$65 ribu (Rp1,16 miliar) per hari.

Asuransi ikut membebani pengiriman. CNN, dengan mengutip The Wall Street Journal, melaporkan produsen minyak membayar US$30 juta sampai US$40 juta (Rp536,7 miliar sampai Rp715,6 miliar) untuk satu perjalanan pulang-pergi keluar masuk Selat Hormuz.

Biaya mengeluarkan minyak dari kawasan itu juga berubah drastis. Tom Kloza, penasihat energi utama Gulf Oil, mengatakan ongkos yang dulu sekitar US$2 (Rp35.782) per barel kini mencapai sekitar US$33 (Rp590,4 ribu) per barel.

“Kita berhasil mengeluarkan minyak mentah dalam jumlah yang wajar, tetapi itu menyesatkan karena biaya mengeluarkan minyak itu luar biasa besar,” kata Kloza.

Harga minyak fisik merambat ke pompa bensin

Biaya pengiriman yang tinggi membantu menjelaskan jarak antara harga minyak fisik dan harga kontrak di pasar keuangan. Menurut S&P Global Platts, Dated Brent—harga minyak fisik untuk pengiriman segera—mencapai US$135,74 (Rp2,43 juta) per barel pada Kamis (8/10). Brent futures berada di sekitar US$100 (Rp1,79 juta) per barel.

Harga minyak fisik mencerminkan biaya mendapatkan pasokan yang benar-benar siap dikirim. CNN menyebut harga inilah yang pada akhirnya mengalir ke harga di stasiun pengisian bahan bakar.

Dengan kata lain, terbukanya jalur belum otomatis membuat BBM murah. Pengangkut dan produsen masih harus memperhitungkan ancaman terhadap kapal, premi asuransi, serta ongkos perjalanan sebelum minyak tiba di kilang dan dipasarkan.

Jan Stuart, ahli strategi energi global Piper Sandler, mengatakan harga energi di AS tetap terhubung dengan pasar internasional. “Amerika Serikat tidak hidup terisolasi. Kami hidup dengan harga global karena kami mengimpor bensin,” ujar Stuart.

Gangguan pasokan belum selesai

Tekanan tidak hanya datang dari perang Iran. Serangan Houthi mengganggu pelayaran di Selat Bab al-Mandeb, sementara serangan drone Ukraina menghancurkan kilang-kilang di Rusia, salah satu eksportir diesel utama dunia.

Rusia membatasi ekspor BBM untuk menghadapi kekurangan pasokan di dalam negeri. China juga menahan ekspor agar pasokan domestiknya tidak ikut menipis. Pembatasan dari dua negara itu mempersempit pilihan bagi pasar yang membutuhkan bahan bakar.

Di Amerika Serikat, kilang sudah beroperasi maksimal. Sebagian fasilitas bahkan mengurangi produksi karena menjalani perawatan rutin, sehingga ruang untuk menambah pasokan menjadi terbatas.

Persediaan juga tak lagi menjadi bantalan yang kuat. Stok minyak komersial dan cadangan darurat dunia yang sempat membantu pada awal tahun kini menyusut tajam. Penurunan stok itu ikut mendorong premi harga saat ini, meski aliran minyak melalui Hormuz sudah pulih mendekati tingkat sebelum perang.

Selama ongkos dan risiko pengiriman masih tinggi, pembukaan Selat Hormuz saja belum cukup untuk menekan harga di pompa. Kloza menegaskan, “Kita berhasil mengeluarkan minyak mentah dalam jumlah yang wajar, tetapi itu menyesatkan karena biaya mengeluarkan minyak itu luar biasa besar.”

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair