Senin, 12 Oktober 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia

Asap karhutla Indonesia menyelimuti gedung dan langit Singapura
Kabut asap dari kebakaran di Indonesia menurunkan kualitas udara di Singapura dan kawasan sekitarnya. (Ilustrasi: AI)

SINGAPURA — Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah mengganggu aktivitas warga lintas negara, termasuk penutupan hampir 200 sekolah dan tempat penitipan anak di Batu Pahat, Malaysia. Pada Rabu (7/10/2026), Singapura sempat menjadi kota dengan kualitas udara terburuk di dunia menurut pemantau IQAir, ketika asap meluas di kawasan Asia Tenggara.

Udara di Singapura mencapai kategori “sangat tidak sehat” pada Rabu siang berdasarkan pemantauan IQAir. Sehari sebelumnya, Kuala Lumpur sempat menempati peringkat pertama sebagai kota paling terpolusi.

Dampaknya terasa hingga jadwal belajar anak-anak di Batu Pahat. Pemerintah setempat menutup sekolah, taman kanak-kanak, dan pusat penitipan anak setelah indeks polutan udara mencapai 203 pada Selasa pagi (6/10/2026), masuk kategori sangat tidak sehat.

Asap karhutla Indonesia meluas ke negara tetangga

Kabut asap berasal dari kebakaran yang tidak terkendali di Indonesia. Praktik pembukaan lahan pertanian dengan cara dibakar, yang diperparah kondisi sangat kering akibat fenomena El Nino, membuat risiko kebakaran meningkat.

Data SiPongi, platform pemantau kebakaran yang dikelola Kementerian Kehutanan Indonesia, menunjukkan jumlah titik panas pada bulan lalu menjadi yang tertinggi sejak 2015. Bahan sumber tidak merinci jumlah titik panas itu, tetapi menyebut lonjakan tersebut menandai tingkat kebakaran yang belum terlihat sejak tahun tersebut.

Pengaruh asap tak berhenti di batas negara. Di Singapura, Badan Lingkungan Nasional (NEA) menggunakan indeks PSI, yang berbeda dari pemeringkatan IQAir. NEA mencatat seluruh lima wilayah Singapura berada pada kategori “tidak sehat”, di bawah tingkat “sangat tidak sehat”.

Pada Kamis pukul 7 pagi, rata-rata PSI selama 24 jam tercatat 109 di bagian tengah Singapura dan 111 di bagian timur. NEA memperkirakan cuaca kering akan melanda sebagian besar wilayah selatan Asia Tenggara dalam beberapa hari berikutnya, sehingga risiko kebakaran dan kabut asap masih tinggi.

Penutupan sekolah dan risiko kesehatan warga

Keputusan menutup fasilitas pendidikan di Batu Pahat menunjukkan bagaimana kabut asap dapat langsung mengubah rutinitas keluarga. Anak-anak tidak masuk sekolah, sementara orang tua dan pengelola pusat penitipan perlu menyesuaikan kegiatan sampai kondisi udara dinilai aman.

Komite penanggulangan bencana setempat menyatakan sekolah akan dibuka kembali bergantung pada hasil pengukuran kualitas udara berikutnya. Kebijakan itu mencakup hampir 200 sekolah dan tempat penitipan anak di Batu Pahat, yang berjarak sekitar 140 km di sebelah barat laut Singapura.

Perbedaan angka antarwilayah juga penting dibaca dengan cermat. Nilai IQAir yang menempatkan Singapura pada posisi terburuk dunia tidak sama dengan PSI yang digunakan NEA; keduanya merupakan sistem pemantauan berbeda. Karena itu, angka peringkat global dan indeks lokal memberikan gambaran yang berlainan, meski sama-sama menunjukkan memburuknya kualitas udara.

Untuk warga, kondisi ini berarti keputusan beraktivitas di luar ruang dapat bergantung pada pembaruan kualitas udara setempat. Bagi sekolah dan layanan penitipan anak, pemantauan berikutnya menentukan kapan kegiatan normal bisa berlangsung lagi. Risiko belum selesai, terutama selama cuaca kering bertahan.

Riwayat kabut asap dan perhatian pada konsesi

Kawasan Asia Tenggara pernah menghadapi gangguan besar akibat kabut asap pada 2015, yang juga memicu ketegangan diplomatik antara Indonesia dan negara-negara tetangga. Catatan itu membuat kebakaran lintas batas kembali menjadi persoalan lingkungan sekaligus hubungan antarnegara.

Greenpeace mendeteksi lebih dari 20 perusahaan kelapa sawit, bubur kertas, dan gula yang konsesi lahannya disebut menjadi sumber asap dari kebakaran. Beberapa perusahaan itu, menurut kelompok pegiat lingkungan tersebut, memiliki kaitan bisnis dengan Malaysia dan Singapura.

Temuan itu menambah sorotan pada praktik pengelolaan lahan dan tanggung jawab perusahaan. Namun, bahan sumber tidak merinci nama perusahaan ataupun bentuk hubungan bisnisnya, sehingga klaim tersebut tetap perlu dilekatkan pada Greenpeace sebagai pihak yang melakukan deteksi.

Asap juga muncul hanya beberapa hari sebelum Singapore Grand Prix. Ajang Formula 1 itu dijadwalkan dimulai pada Jumat (9/10/2026), saat penyelenggara masih memantau dampak kabut terhadap acara.

Singapore GP menyatakan pada Selasa bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan instansi terkait untuk menilai situasi. Keputusan bersama akan dibuat jika kabut asap mengganggu jarak pandang, kesehatan masyarakat, atau jalannya perlombaan.

Untuk saat ini, penyelenggara belum mengumumkan perubahan acara dalam bahan yang tersedia. Penilaian kualitas udara dan jarak pandang menjelang jadwal balapan akan menjadi penentu langkah berikutnya, sementara NEA memperkirakan kondisi kering dan risiko asap masih berlanjut.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 12 Oktober 2026: Cara Cek NIK KTP Online