Senin, 12 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

MSCI Lanjut Bekukan Saham Asal Indonesia? Begini Proyeksinya

MSCI bekukan saham Indonesia dan evaluasi reformasi pasar modal
Evaluasi MSCI terhadap reformasi pasar modal Indonesia menjadi perhatian investor. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — MSCI diperkirakan memperpanjang pembekuan saham Indonesia dalam evaluasi indeks November 2026 karena masih menunggu bukti bahwa reformasi pasar modal berjalan efektif. Analis Mirae Asset Sekuritas Wilbert Arifin memperkirakan pengumuman terkait perlakuan terhadap Indonesia disampaikan pada akhir Oktober.

Kebijakan freeze saat ini membuat MSCI tidak menambahkan saham baru asal Indonesia ke indeksnya dan tidak menaikkan bobot saham yang sudah tercatat. Indonesia masih berada dalam klasifikasi pasar Emerging Market, tetapi status itu belum berarti pembatasan akan segera dicabut.

Dalam keterangan yang dikutip Kompas.com, Wilbert mengatakan evaluasi akan mencakup pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), penghentian penambahan saham baru, serta perpindahan saham ke segmen indeks yang lebih tinggi. Ia memperkirakan kebijakan tersebut berlanjut karena MSCI membutuhkan bukti lebih kuat tentang efektivitas reformasi.

MSCI menunggu bukti reformasi pasar

MSCI sebelumnya menekankan konsistensi dan efektivitas pasar modal. Dua hal itu, menurut bahan yang dikutip Kompas.com, perlu dibuktikan oleh Self Regulatory Organization (SRO) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Artinya, perubahan aturan saja belum cukup; pengelola pasar perlu menunjukkan bahwa kebijakan benar-benar mengatasi persoalan yang menjadi perhatian penyedia indeks tersebut.

Sejumlah reformasi sudah berjalan. Bursa mempublikasikan data kepemilikan saham di atas 1 persen, memperinci klasifikasi investor, menerapkan kerangka High Shareholding Concentration (HSC), dan menyiapkan peta jalan untuk menaikkan batas minimum free float menjadi 15 persen. Landasan hukum demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) juga telah tersedia.

Perhatian MSCI kini bergeser dari penerbitan kebijakan ke bukti pelaksanaan dan hasilnya. Keterbukaan kepemilikan saham di atas 1 persen dipublikasikan setiap bulan dan telah digunakan MSCI untuk menyempurnakan estimasi free float. Namun, penilaian atas reformasi tidak hanya bergantung pada tersedianya data: efektivitas pengawasan dan penindakan ikut menentukan.

Perkembangan lain terlihat pada daftar HSC yang bertambah menjadi 63 saham. Sebanyak 37 di antaranya masuk melalui pengujian price impact ratio baru, yang dirancang untuk mengidentifikasi saham dengan pergerakan harga agresif meski likuiditasnya tipis.

Halaman:12Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair