WASHINGTON — Istilah super intelligence yang dipilih Donald Trump untuk menyebut kecerdasan buatan menarik perhatian publik Amerika Serikat. Setelah perintah eksekutif disahkan, pencarian istilah itu di AS sempat meningkat sekitar tiga kali lipat, sementara perhatian dunia terhadap istilah baru tersebut tidak terlihat ikut naik.
Perubahan sebutan ini menyentuh cara pemerintah dan publik membicarakan teknologi AI. Trump menyebut pengguna istilah “artificial intelligence” sebagai musuh, tetapi sejumlah bagian pemerintah AS masih memakai istilah lama—termasuk alamat situs ai.gov.
Istilah baru, lonjakan pencarian di AS
Google Trends menunjukkan pencarian untuk super intelligence meningkat setelah perintah eksekutif disahkan. Kenaikannya sempat mencapai sekitar tiga kali lipat pada satu titik. Namun, bahan sumber tidak menyebut tanggal penerbitan perintah maupun rentang waktu pengukuran, sehingga lonjakan itu tidak dapat dikaitkan dengan periode yang lebih spesifik.
Perhatian tersebut tampak terbatas secara geografis. Sumber yang dikutip TechRadar menyebut kenaikan terjadi di Amerika Serikat, sedangkan tren pencarian global tidak menunjukkan perhatian serupa. Setelah lonjakan awal, minat pada istilah baru itu juga terlihat mereda.
Trump menyampaikan sikapnya melalui Truth Social, jejaring sosial yang ia dirikan melalui Trump Media & Technology Group. “The White House considers anyone that uses the term, ‘Artificial Intelligence,’ as opposed to the highly accepted new and more accurate term, ‘Super Intelligence,’ THE ENEMY! President DONALD J. TRUMP,” tulis Trump dalam unggahannya.
Istilah “musuh” dalam unggahan itu menunjukkan bahwa pilihan kata bukan sekadar soal gaya komunikasi. Trump mendorong istilah yang dinilainya lebih positif dan akurat, sementara penggunaan “artificial intelligence” diposisikan sebagai sesuatu yang ditentang Gedung Putih.
Perubahan bahasa belum menyeluruh
Sejumlah situs pemerintah AS dilaporkan mengganti rujukan “artificial intelligence” dan “AI” dengan “super intelligence” serta “SI”. Namun, perubahan itu tidak berlaku seragam. Politico, sebagaimana dikutip TechRadar, menemukan situs utama yang membahas super intelligence masih menggunakan alamat ai.gov.
Perbedaan tersebut memperlihatkan batas antara pernyataan politik dan penerapan administratif. Sebutan baru dapat muncul di laman tertentu, tetapi alamat situs yang tetap memakai “AI” menunjukkan bahwa istilah lama belum sepenuhnya disingkirkan dari infrastruktur pemerintah.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.