JAKARTA — Target ekspor nikel USD 45 miliar pada 2026 menjadi taruhan besar kebijakan hilirisasi yang didorong Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia. Bahlil menyampaikan sasaran itu saat Trade Expo Indonesia 2026, Rabu (14/10), dengan harapan nilai tambah pengolahan di dalam negeri memperkuat kemandirian ekonomi.
Nilai ekspor mineral nikel, menurut Bahlil, sudah mencapai USD 34 miliar pada 2023 dan lebih dari USD 40 miliar pada 2025. Untuk tahun ini, ia memasang target minimal USD 45 miliar. Angka tersebut menjadi fokus karena hilirisasi nikel mencakup pembangunan industri dari pertambangan hingga baterai kendaraan listrik dan daur ulang.
Ekspor nikel naik setelah larangan bijih mentah
Bahlil membandingkan target itu dengan nilai ekspor nikel Indonesia pada 2017, yang saat itu mencapai USD 3,3 miliar. Ia mengatakan nilainya kemudian meningkat hingga sepuluh kali lipat setelah pemerintah menghentikan ekspor bijih nikel mentah dan mendorong pengolahan di dalam negeri.
Dalam pernyataan yang disampaikan di Trade Expo Indonesia, Bahlil menegaskan bahwa orientasi Indonesia perlu bergeser dari penjualan bahan mentah menuju produk dengan nilai tambah. “Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional,” ujar Bahlil.
Catatan dari pemberitaan Katadata, Viva, dan Detik Finance juga menyebut target ekspor nikel US$45 miliar pada 2026 serta capaian lebih dari US$40 miliar pada 2025.
Namun, sumber pembanding tidak seragam dalam menguraikan beberapa rincian lain, termasuk konversi nilai target ke rupiah dan cakupan target investasi hilirisasi. Karena itu, artikel ini menggunakan angka dolar dan rincian peta jalan dari bahan utama.
Hilirisasi nikel dalam peta investasi hingga 2040
Target ekspor nikel berjalan berdampingan dengan peta jalan investasi hilirisasi yang lebih luas. Bahlil menyebut investasi hilirisasi untuk seluruh sektor ditargetkan mencapai USD 618 miliar hingga 2040, mencakup mineral dan batu bara, minyak dan gas bumi, kehutanan, perikanan, serta pertanian.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.