Minggu, 18 Oktober 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Afghanistan di Bawah Taliban: Perempuan Kehilangan Hak

Afghanistan di bawah Taliban dengan ruang kelas kosong dan buku tertutup
Pembatasan pendidikan membuat jutaan anak perempuan Afghanistan kehilangan akses ke sekolah menengah. (Ilustrasi: AI)

Larangan sekolah mengancam masa depan profesi

Afghanistan menjadi satu-satunya negara di dunia yang melarang perempuan dan anak perempuan mengakses pendidikan menengah dan tinggi di bawah pembatasan saat ini. UNICEF mencatat lebih dari 2,6 juta anak perempuan telah kehilangan akses ke pendidikan menengah sejak Taliban mengambil alih kekuasaan.

Perempuan juga dikeluarkan dari universitas sejak Desember 2022. Akibatnya, banyak siswi kehilangan jalur untuk memperoleh kualifikasi lebih tinggi dan pekerjaan terampil. Dampak jangka panjangnya dapat dirasakan oleh layanan publik Afghanistan, yang membutuhkan guru, dokter, perawat, dan tenaga profesional lainnya.

Kondisi sekolah pun menghadapi persoalan lain. Pada Januari 2026, UNESCO dan UNICEF melaporkan 93 persen anak yang menyelesaikan pendidikan dasar masih berjuang mencapai kemampuan membaca dasar.

Data pendaftaran menunjukkan gambaran yang perlu dibaca dengan hati-hati. Antara 2018 dan 2024, angka partisipasi bruto anak laki-laki turun dari 120 menjadi 104, sedangkan angka untuk anak perempuan naik dari 82 menjadi 87. Secara keseluruhan, angkanya turun dari 101 menjadi 95.

Angka partisipasi bruto dapat melampaui 100 karena mencakup murid di luar kelompok usia resmi. Angka itu juga tidak mengukur secara langsung kehadiran atau kelulusan. Kenaikan angka anak perempuan di pendidikan dasar, karena itu, tidak berarti larangan terhadap anak perempuan yang lebih tua telah dilonggarkan.

Jumlah guru perempuan ikut menyusut, dari 98.196 pada 2019 menjadi 66.208 pada 2024, turun sekitar 32,5 persen. UNICEF memperingatkan pada April 2026 bahwa Afghanistan dapat kehilangan lebih dari 25.000 guru perempuan dan pekerja kesehatan pada 2030 jika pembatasan pendidikan anak perempuan dan pekerjaan perempuan terus berlaku.

Tekanan kehidupan sehari-hari dan kesehatan mental

Pembatasan itu juga membawa beban psikologis. UN Women melaporkan pada Agustus 2026 bahwa 70 persen perempuan yang disurvei menilai kesehatan mental mereka buruk atau sangat buruk. Penilaian UNDP sebelumnya, berdasarkan konsultasi pada 2024, mencatat angka 81 persen.

Kedua angka tersebut berasal dari penilaian berbeda, sehingga tidak bisa diperlakukan sebagai ukuran perubahan langsung dari waktu ke waktu. Dalam kajian UNDP, perubahan perilaku yang paling sering dilaporkan mencakup kekhawatiran berlebihan, rasa putus asa, atau kewaspadaan berlebihan, yang dialami 37 persen responden.

Halaman:123Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda