Minggu, 18 Oktober 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Afghanistan di Bawah Taliban: Perempuan Kehilangan Hak

Afghanistan di bawah Taliban dengan ruang kelas kosong dan buku tertutup
Pembatasan pendidikan membuat jutaan anak perempuan Afghanistan kehilangan akses ke sekolah menengah. (Ilustrasi: AI)

Kesedihan berlebihan dilaporkan 22 persen responden. Sebanyak 21 persen menyebut nafsu makan atau tidur menurun, 20 persen mengalami kelelahan, dan 12 persen menarik diri dari lingkungan sosial.

Bagi warga, dampaknya muncul dalam keputusan sederhana yang kini tidak lagi mudah: apakah seorang perempuan dapat pergi bekerja, mengakses layanan kesehatan, atau melanjutkan sekolah. Ketika perempuan menghindari pasar dan fasilitas kesehatan karena merasa tidak aman, pembatasan memengaruhi kebutuhan keluarga sehari-hari, bukan hanya hak mereka di atas kertas.

Tekanan tersebut hadir bersama ancaman kekurangan pangan, kesulitan ekonomi, pengungsian, dan berkurangnya bantuan kemanusiaan. Kombinasi itu memperberat keadaan ketika musim dingin datang, saat jutaan orang menghadapi risiko kelaparan.

Aturan hukum terbaru juga menunjukkan bagaimana kendali menjangkau kehidupan domestik. Pada Januari 2026, Taliban mengadopsi Kitab Hukum Acara Pidana untuk Pengadilan. Pasal 32 menetapkan suami yang menyiksa istrinya dapat dipenjara hanya 15 hari, dan itu pun jika kekerasan menyebabkan tulang patah, luka terbuka, atau memar yang terlihat.

Kitab hukum itu juga mengizinkan suami menjatuhkan hukuman diskresioner atas “ketidakpatuhan”, mulai dari teguran hingga hukuman fisik. Sebagai perbandingan, orang yang mengorganisasi adu hewan dapat dipenjara hingga lima bulan.

Data dan aturan yang dikutip dalam laporan tersebut menggambarkan tekanan yang merentang dari ruang kelas hingga rumah tangga. Peringatan Türk soal minimnya perhatian internasional menempatkan bantuan bagi warga Afghanistan sebagai persoalan mendesak, sementara pembatasan yang berlaku terus membentuk pilihan hidup perempuan dan anak perempuan.

UNICEF memperingatkan kehilangan tenaga guru dan pekerja kesehatan perempuan dapat berlanjut hingga 2030 jika kebijakan saat ini tidak berubah. Perkembangan kebijakan Taliban dan respons bantuan kemanusiaan akan menentukan apakah akses pendidikan, pekerjaan, dan layanan dasar bagi warga Afghanistan semakin menyempit.

Halaman:123Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda