Senin, 19 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Wall Street Anjlok Usai Saham Teknologi AI Kompak Berguguran

Wall Street Anjlok Usai Saham Teknologi AI Kompak Berguguran
Wall Street Anjlok Usai Saham Teknologi AI Kompak Berguguran

NEW YORK — Wall Street anjlok pada Jumat (16/10) waktu setempat ketika saham teknologi terkait kecerdasan buatan (AI) kembali dijual, sementara lonjakan harga minyak menambah kecemasan investor. Nasdaq turun 2,19 persen ke 26.128,13 poin, penurunan terbesar di antara tiga indeks utama menurut data Reuters.

S&P 500 melemah 1,22 persen menjadi 7.649,71 poin dan Dow Jones Industrial Average turun 0,55 persen ke 51.891,77 poin. Tekanan datang menjelang akhir pekan, saat pelaku pasar menimbang risiko utang perusahaan infrastruktur AI dan kenaikan biaya energi.

Wall Street anjlok saat tekanan saham AI meluas

Saham CoreWeave, perusahaan komputasi awan yang didukung Nvidia, merosot 12 persen dalam perdagangan Jumat. Dalam lima sesi terakhir, sahamnya telah kehilangan sekitar 25 persen. Obligasi perusahaan pusat data itu juga terkena aksi jual sepanjang pekan, dengan imbal hasil menembus 15 persen.

Investor mempertanyakan apakah perusahaan yang membangun kapasitas komputasi untuk AI dapat menghasilkan keuntungan cukup cepat untuk membayar utang. Kekhawatiran itu bertambah karena biaya pinjaman diperkirakan naik. Jika pendanaan makin mahal, rencana ekspansi perusahaan dapat menghadapi tekanan, terutama ketika pengembalian investasi belum sebanding dengan belanja infrastruktur.

Broadcom turun 3,6 persen. Indeks semikonduktor PHLX terkoreksi 2,5 persen dan berada dalam tren turun selama delapan hari berturut-turut. Pelemahan saham teknologi membuat Nasdaq menuju penurunan mingguan lebih dari 4 persen.

Data Reuters menyebut S&P 500 juga berada di jalur penurunan mingguan terdalam sejak Januari, sedangkan Nasdaq menuju penurunan paling tajam sejak Juni. Katadata melaporkan Nasdaq turun lebih dari 4 persen dalam sepekan dan menyebutnya sebagai penurunan terdalam sejak Juni. Perbedaan waktu pengukuran dan penyajian data antarlaporan membuat patokan periode tersebut tidak sepenuhnya sama.

Harga minyak dan biaya pinjaman menambah risiko

Harga minyak melonjak lebih dari 3 persen pada Jumat karena kekhawatiran pasokan dari Timur Tengah. Kenaikan energi menjadi tekanan tambahan bagi pasar yang sudah gelisah terhadap valuasi saham teknologi dan arah suku bunga.

“Ada ketakutan di pasar. Harga minyak yang tinggi, khususnya, cenderung menekan rasio harga terhadap laba saham. Karena itu, saya menilai investor memilih bersikap hati-hati menjelang akhir pekan daripada mengambil risiko lebih besar,” kata Rob Haworth, ahli strategi investasi senior di U.S. Bank Wealth Management.

Dampaknya tidak berhenti pada perusahaan teknologi. Bagi investor yang memegang dana indeks atau saham Amerika Serikat, koreksi saham-saham berkapitalisasi besar dapat menggerakkan nilai portofolio secara luas. Ketergantungan kenaikan indeks pada perusahaan terkait AI juga berarti pasar lebih rentan ketika kelompok saham itu melemah serempak.

Angka sepanjang tahun memperlihatkan ketimpangan tersebut. S&P 500 masih naik sekitar 12 persen pada 2026, tetapi saham median dalam indeks hanya bertambah sekitar 6 persen sejak awal tahun. Sekitar 185 saham anggota indeks justru mencatat penurunan. Pada perdagangan Jumat, saham yang melemah di S&P 500 mengungguli saham yang menguat dengan rasio 1,3 banding 1.

Investor menanti laporan keuangan dan keputusan The Fed

Kekhawatiran pendanaan juga merembet ke perusahaan AI swasta. Reuters melaporkan sejumlah investor Anthropic, baik yang sudah menanamkan modal maupun yang tengah mempertimbangkan investasi, sedang menimbang valuasi lebih rendah untuk rencana penawaran umum perdana saham perusahaan itu.

Pasar akan mendapat petunjuk baru saat musim laporan keuangan kuartal III ramai pekan depan. Tesla, Meta Platforms, dan Procter & Gamble dijadwalkan menyampaikan kinerja. Berdasarkan data LSEG, analis rata-rata memperkirakan laba perusahaan akan melonjak lebih dari 30 persen, dengan perusahaan teknologi besar yang terkait AI menjadi pendorong utama.

Namun, ekspektasi laba itu berhadapan dengan sinyal inflasi yang belum reda. Laporan harga konsumen dan produsen pekan ini menunjukkan tekanan harga lebih luas daripada energi. Kondisi tersebut ikut mengubah perkiraan pasar tentang langkah Federal Reserve.

Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan optimisme terhadap kekuatan ekonomi Amerika Serikat pada Jumat. Ia juga mengaku terkejut melihat ekonomi global mampu bertahan menghadapi guncangan energi berkepanjangan dan kebijakan moneter ketat untuk mengendalikan inflasi.

Pasar semakin memperkirakan bank sentral mempertahankan suku bunga bulan ini, sementara Barclays memperkirakan kenaikan 25 basis poin pada Desember dan Januari.

Pergerakan saham individual menunjukkan tekanan yang belum merata. S&P 500 mencatat 19 saham pada level tertinggi baru dan satu saham pada level terendah baru. Di Nasdaq, 49 saham mencapai puncak baru, tetapi 263 saham menyentuh titik terendah baru.

Jumlah saham Nasdaq yang membuat level terendah baru itu jauh melampaui jumlah yang mencetak puncak baru, meski indeks masih ditopang sejumlah perusahaan besar. Angka tersebut menjadi gambaran luasnya tekanan pasar saat investor menilai ulang risiko saham AI, biaya energi, dan pendanaan.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair