Rabu, 21 Oktober 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

First Resources Siap Diperiksa Singapura soal Kabut Asap

Konsesi sawit dan kabut asap dalam sorotan First Resources
Konsesi sawit First Resources menjadi perhatian dalam pemeriksaan dugaan sumber kabut asap. (Ilustrasi: AI)

PANGKALPINANG — First Resources menyatakan siap menjalani pemeriksaan menyeluruh dari otoritas Singapura terkait dugaan kebakaran di area kerjanya di Indonesia. Kabut asap lintas negara yang menjadi persoalan ini membuat bukti dan temuan lapangan ikut menentukan langkah berikutnya.

Dalam pernyataan resmi yang dikutip pada Rabu (21/10), grup usaha sawit itu menyambut pemeriksaan berbasis bukti, termasuk tinjauan lapangan bila diperlukan. Perusahaan juga menyatakan akan memberikan dokumen yang relevan kepada otoritas berwenang.

“First Resources sepenuhnya mendukung dan menyambut baik pemeriksaan menyeluruh dan berbasis bukti terhadap fakta-fakta seputar kebakaran dan kabut asap yang sedang berlangsung,” demikian pernyataan perusahaan.

First Resources tawarkan bukti kebakaran

Perusahaan menyebut bukti yang dapat disediakan mencakup kronologi deteksi titik api dan perkembangan kebakaran berdasarkan citra satelit. First Resources juga menyatakan memiliki dokumentasi upaya pengurangan dan pemadaman api serta analisis spasial mengenai perlindungan kawasan konservasi.

Grup itu menegaskan telah menerapkan kebijakan nol pembakaran atau Zero Burning Policy di seluruh operasinya. Namun, pemerintah Singapura sebelumnya menyatakan klaim kebijakan dan upaya pemadaman saja belum cukup; perusahaan perlu menunjukkan bukti.

“Kami percaya bahwa setiap penilaian sumber kebakaran harus didasarkan pada fakta yang terverifikasi, bukti ilmiah, dan pemahaman komprehensif tentang keadaan di lapangan,” tulis perusahaan.

First Resources juga menyatakan yakin penilaian objektif akan membuktikan bahwa grup tersebut tidak membuka lahan dengan api, baik langsung maupun tidak langsung. Pernyataan itu muncul setelah Menteri Senior Singapura K. Shanmugam mengatakan terdapat kebakaran atau sumber asap yang diduga berkaitan dengan First Resources dan sejumlah perusahaan lain yang tercatat di Singapura.

Singapura minta fakta dari perusahaan

Shanmugam mengatakan pemerintahnya akan meminta fakta lengkap dan mempertimbangkan bukti secara adil. Ia juga menyebut lembaga di Singapura tengah mempertimbangkan langkah hukum, regulasi, dan ekonomi terhadap perusahaan yang dinilai terkait kabut asap.

“Tunjukkan buktinya,” ujar Shanmugam di hadapan awak media pada Senin (19/10), merespons pernyataan First Resources mengenai kebijakan nol pembakaran dan upaya pemadaman.

Menurut Shanmugam, lokasi operasi perusahaan di Indonesia tidak serta-merta membebaskan mereka dari tanggung jawab yang dapat dijalankan di Singapura. Bursa Efek Singapura (SGX), kata dia, telah meminta keterangan dari tujuh perusahaan terdaftar mengenai operasi dan kemungkinan hubungan mereka dengan bencana kabut asap.

Perusahaan yang disebut ialah Golden-Agri Resources, Bumitama Agri, First Resources, Wilmar, Kencana Agri, Indofood Agri, dan TSH Resources. Pemeriksaan dan permintaan keterangan itu menempatkan respons perusahaan serta bukti terkait sumber api dalam perhatian otoritas pasar dan pemerintah Singapura.

Temuan sumber asap di lahan konsesi

Dugaan keterkaitan First Resources dengan kebakaran juga disorot Greenpeace dan Pantau Gambut. Dalam laporan terbaru yang disebut dalam bahan sumber, kedua organisasi itu menyoroti kebakaran di Kalimantan Barat melalui aktivitas PT Kayung Agro Lestari, anak usaha PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ) yang terafiliasi dengan First Resources.

Laporan tersebut mengidentifikasi 25 sumber asap di konsesi Kayung Agro Lestari yang bertahan lebih dari tujuh hari selama 8 Agustus hingga 10 September. Di konsesi PT Mitra Karya Sentosa, anak usaha First Resources, teridentifikasi 10 titik sumber asap yang bertahan lebih dari enam hari, sejak 10 Agustus hingga 11 September.

Temuan organisasi lingkungan itu merupakan bagian dari laporan mereka, bukan kesimpulan akhir mengenai penyebab kebakaran atau tanggung jawab perusahaan. First Resources meminta penilaian bertumpu pada bukti terverifikasi dan menyatakan bersedia menyerahkan data yang relevan agar situasi di lapangan dapat diperiksa.

Bagi warga di wilayah terdampak, kabut asap bukan sekadar sengketa antarpemerintah atau persoalan perusahaan. Pemeriksaan yang menguji asal api dan langkah pemadaman dapat membantu memperjelas siapa yang bertanggung jawab serta bagaimana kebakaran ditangani. Namun, bahan sumber tidak merinci dampak kesehatan atau jumlah warga yang terkena.

Profil dan kinerja First Resources

First Resources didirikan pada 1992 dan tercatat di bursa Singapura sejak 2007. Perusahaan mengelola lebih dari 200 ribu hektare perkebunan sawit di Riau, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat. Grup usaha itu kini dipimpin Ciliandro Fangiono, anak ketiga pengusaha Martias Fangiono.

Perusahaan juga mencatat kenaikan kinerja bisnis pada 2025. Pendapatannya mencapai US$1,66 miliar, naik 59,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan laba bersih meningkat 44 persen menjadi US$353,9 juta.

Dalam daftar Indonesia’s 50 Richest yang dirilis Forbes pada Desember 2025, Ciliandro Fangiono dan keluarga berada di peringkat ke-27 dengan estimasi kekayaan US$3,05 miliar. Kini, perusahaan menyatakan siap menghadapi pemeriksaan dan menyediakan kronologi titik api, citra satelit, serta dokumentasi pemadaman kepada otoritas.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 21 Oktober 2026: Cara Cek NIK KTP Online