PEKANBARU — Karhutla di Riau mendorong anggota DPR RI Fraksi PKB Mafirion Syamsuddin Rogo meminta peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pekanbaru diisi dengan bantuan nyata bagi warga terdampak kabut asap.
Apel nasional dijadwalkan berlangsung pada 22 Oktober 2026 di Pondok Pesantren Darul El Hikmah, Kecamatan Tampan, dengan Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sebagai pemimpin apel.
Desakan itu muncul karena asap karhutla mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat. Mafirion menilai perayaan bagi santri tetap penting, tetapi kepedulian kepada warga yang menghadapi bencana tidak boleh berhenti sebagai pesan dalam seremoni.
Hari Santri dan desakan aksi untuk korban karhutla
Menurut Mafirion, momentum apel di Pekanbaru memberi ruang untuk menunjukkan bahwa semangat pengabdian santri juga berarti hadir saat masyarakat kesulitan. Ia meminta komitmen terhadap lingkungan dan penanganan bencana diwujudkan lewat langkah yang dirasakan langsung oleh warga.
“Hari Santri memang menjadi pestanya para santri. Namun, ketika masyarakat sedang menghadapi bencana, kepedulian tidak bisa ditawar. Inilah saatnya semangat pengabdian santri diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan hanya teori atau seremoni,” kata Mafirion.
Ia mengatakan peringatan Hari Santri tetap dapat berlangsung meriah sebagai penghargaan atas kontribusi santri. Namun, kondisi warga yang menghadapi asap perlu ikut mendapat perhatian. Bagi Mafirion, ukuran keberhasilan kegiatan tidak hanya terletak pada jalannya acara, tetapi juga pada kepedulian dan aksi yang tumbuh sesudahnya.
Dampak kabut asap tidak berhenti pada terganggunya kegiatan sehari-hari. Anak-anak, lanjut usia, dan kelompok rentan lainnya menghadapi risiko kesehatan yang lebih besar, sehingga bantuan kepada warga serta penyampaian informasi mengenai bahaya asap menjadi bagian penting dari respons sosial.
Pesantren dinilai punya peran dalam respons karhutla
Mafirion mendorong pesantren dan komunitas santri terlibat dalam edukasi bahaya kabut asap, solidaritas sosial, serta kegiatan untuk menjaga lingkungan. Ia menilai jaringan dan semangat gotong royong di pesantren dapat membantu menggerakkan kepedulian di tengah masyarakat.
“Pesantren memiliki kekuatan nilai, jaringan, dan semangat gotong royong. Semua itu bisa menjadi modal untuk membantu masyarakat menghadapi persoalan lingkungan. Santri tidak cukup hanya memahami ajaran tentang menjaga alam, tetapi juga harus mengambil bagian dalam praktik nyata,” katanya.
Karhutla yang berulang di Riau dan daerah lain, menurut Mafirion, menunjukkan perlunya perhatian dan kerja sama berkelanjutan. Perlindungan terhadap warga terdampak juga berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat: warga perlu mendapat perhatian atas kesehatan, keselamatan, dan lingkungan tempat mereka hidup.
Ia berharap kehadiran Cak Imin di Pekanbaru memperkuat pesan bahwa santri perlu berada dekat dengan masyarakat, termasuk ketika bencana terjadi. Mafirion menegaskan kegiatan sosial tidak seharusnya berhenti pada ajakan, melainkan diteruskan dengan bantuan bagi warga yang membutuhkan.
“Komitmen Gus Muhaimin dan PKB jelas, Hari Santri harus menjadi perayaan yang membanggakan, sekaligus momentum untuk memperkuat keberpihakan kepada rakyat. Ketika ada masyarakat yang kesulitan akibat karhutla, kita tidak boleh hanya berbicara tentang kepedulian. Kita harus hadir, bergerak, dan memberikan bantuan nyata,” tutup Mafirion.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.