Sabtu, 24 Oktober 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

BMKG Pastikan Tak Ada Dampak Negatif OMC Dry Ice bagi Masyarakat

BMKG Pastikan Tak Ada Dampak Negatif OMC Dry Ice bagi Masyarakat
BMKG Pastikan Tak Ada Dampak Negatif OMC Dry Ice bagi Masyarakat

JAKARTA — OMC dry ice yang dijalankan BMKG untuk mengurai kabut asap karhutla dirancang agar masyarakat di daratan tidak merasakan dampak penyemaian. Pelet es kering dilepas pada ketinggian sekitar 5.000 hingga 7.000 kaki, sehingga proses sublimasi berlangsung di atmosfer sebelum material mencapai permukaan.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan penjelasan itu pada Sabtu (24/10/2026). BMKG menggunakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu menanggulangi dampak kebakaran hutan dan lahan, dengan fokus mengurangi kepekatan kabut asap.

Bagi warga yang berada di wilayah terdampak asap, penjelasan mengenai lokasi penyemaian ini penting: menurut BMKG, operasi dirancang bekerja di lapisan atmosfer, bukan dengan menebarkan es kering di permukiman. Handoko mengatakan prosedur dan ukuran material dipilih dengan cermat untuk menghindari dampak negatif bagi masyarakat di daratan.

OMC dry ice disemai di atas lapisan inversi

BMKG menggunakan dry ice atau es kering dalam bentuk pelet kecil. Material itu disemai di atas lapisan inversi pada ketinggian sekitar 5.000 hingga 7.000 kaki. Ketinggian tersebut dipilih agar es kering menyublim di atmosfer sebelum mencapai tanah.

“Tentu kita melakukan operasi ini dengan sebaik-baiknya. Karena operasi modifikasi cuaca dengan dry ice itu tujuannya kan untuk kebaikan, maka kita tidak ingin menimbulkan dampak yang tidak baik. Oleh karenanya, misalnya kita menyemai dry ice itu dalam ukuran yang kecil-kecil, ukuran pelet gitu, ya,” kata Handoko, dikutip Sabtu (24/10/2026).

Ia menjelaskan bahwa penyemaian dilakukan pada lapisan udara tertentu, sehingga dampak operasi berlangsung di atmosfer. BMKG menyatakan orang yang berada di daratan tidak merasakan dampak penyemaian tersebut.

“Sehingga kita di bawah tidak merasakan dampak penyemaian itu, tapi penyemaian itu dampaknya langsung di atas, di atmosfer di sekitar 5.000 sampai 7.000 kaki. Nah, ini tentu upaya kita untuk memastikan bahwa dampak negatifnya itu tidak terjadi,” ujarnya.

Penjelasan BMKG soal dampak OMC dry ice

Penggunaan es kering menjadi bagian dari upaya BMKG menangani dampak karhutla, terutama kabut asap yang pekat. Dalam keterangan yang sama, lembaga itu menekankan bahwa operasi dilakukan dengan perhitungan dan pemilihan ukuran pelet yang mempertimbangkan dampak terhadap masyarakat di daratan.

Artinya bagi warga, informasi utama dari BMKG adalah bahwa material disemai di ketinggian dan diharapkan menyublim sebelum mencapai permukaan. Pernyataan ini menjelaskan rancangan operasi yang sedang dioptimalkan; tujuannya tetap membantu mengurai kabut asap akibat karhutla.

Sindonews juga melaporkan pernyataan Handoko dan rincian ketinggian penyemaian yang sama. Dalam laporan itu, OMC disebut diarahkan untuk membantu menekan dampak kabut asap, sementara klaim tentang dampak bagi warga tetap diatribusikan kepada BMKG, bukan disajikan sebagai hasil pengukuran independen.

Penjelasan teknis itu menjadi dasar BMKG menyatakan operasi tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat di daratan. Pelet dry ice disemai pada ketinggian sekitar 5.000 hingga 7.000 kaki.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda