SUKOHARJO — Perubahan sosial dan perkembangan teknologi menambah tantangan bagi madrasah dalam melindungi serta mendampingi peserta didik. Komisi VIII DPR RI bersama Fakultas Tarbiyah UIN Raden Mas Said Surakarta mendorong lingkungan belajar yang humanis melalui dua seminar bagi madrasah di Kabupaten Sukoharjo dan sekitarnya, Sabtu (25/10/2026).
Dalam kegiatan di UIN Raden Mas Said Surakarta itu, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Singgih Januratmoko menekankan bahwa peningkatan mutu pendidikan perlu berjalan bersama perlindungan anak, aksesibilitas, dan pendidikan inklusif. Dorongan tersebut menyasar kebutuhan peserta didik yang beragam, bukan sekadar pembukaan akses masuk sekolah.
Lingkungan belajar humanis perlu dukungan nyata
Pendidikan inklusif menuntut madrasah memberi ruang bagi setiap anak untuk berpartisipasi dan berkembang sesuai potensi serta kebutuhannya. Prinsip itu juga berarti sekolah perlu memperhatikan hambatan yang mungkin dihadapi peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar.
Singgih mengatakan madrasah harus terus berbenah agar mampu merespons tantangan zaman. “Madrasah harus terus berbenah agar mampu menjawab tantangan zaman. Penguatan kualitas pendidikan harus berjalan seiring dengan perlindungan anak, pemenuhan aksesibilitas, dan penciptaan lingkungan belajar yang inklusif serta humanis,” kata Singgih di UIN Raden Mas Said Surakarta.
Perubahan tidak cukup berhenti pada kebijakan tertulis. Bahan kegiatan menyoroti perlunya kesiapan tenaga pendidik, fasilitas yang aksesibel, serta budaya pendidikan yang menghargai perbedaan. Ketiganya menentukan apakah peserta didik benar-benar dapat terlibat dalam pembelajaran dan mengembangkan kemampuannya.
Di ruang kelas, kebutuhan itu dapat terasa dalam hal-hal konkret: cara guru menyampaikan materi, kemudahan menggunakan fasilitas, hingga kesempatan siswa untuk ikut berpartisipasi. Bila dukungan tersebut tidak tersedia, akses pendidikan saja belum menjamin setiap anak memperoleh pengalaman belajar yang setara.
Pendidikan inklusif dan ekosistem digital aman
Dua seminar yang digelar Komisi VIII DPR RI dan Fakultas Tarbiyah UIN Raden Mas Said Surakarta mengangkat penguatan pendidikan inklusif serta pembangunan ekosistem digital yang aman. Kedua isu itu berkaitan dengan upaya menciptakan lingkungan belajar yang melindungi peserta didik, sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk berkembang.
Perhatian pada keamanan digital menambah dimensi dalam pembenahan madrasah. Bahan sumber tidak merinci bentuk program atau langkah teknis yang dibahas dalam seminar. Namun, penyebutan ekosistem digital aman menunjukkan bahwa perlindungan peserta didik turut menjadi perhatian saat pendidikan bersinggungan dengan perkembangan teknologi.
Bagi madrasah di Sukoharjo dan wilayah sekitarnya, agenda tersebut menempatkan mutu pendidikan dan perlindungan anak dalam satu pembahasan. Dampaknya bergantung pada dukungan yang tersedia bagi sekolah: kebijakan yang memadai, tenaga pendidik yang siap, dan fasilitas yang bisa digunakan peserta didik dengan kebutuhan berbeda.
Singgih juga menilai pendidikan perlu mendapat perhatian berkelanjutan karena berperan dalam pembangunan sumber daya manusia. Ia menyebut madrasah punya peran strategis dalam membentuk generasi masa depan, sehingga penguatannya bukan hanya urusan satu lembaga.
Ia menegaskan komitmen anggota dewan untuk mengawal kebijakan dan program yang membawa manfaat bagi masyarakat. “Komitmen kami adalah terus mengawal kebijakan dan program yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat. Madrasah memiliki peran strategis dalam membentuk generasi masa depan sehingga penguatannya perlu menjadi perhatian bersama,” ujar Singgih.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.