JAKARTA — Dua putra Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf, yang dikenal sebagai Gus Irfan, mengundurkan diri dari jabatan tenaga ahli di Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj). Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan surat pengunduran diri mereka diterima pada Senin (26/10/2026), setelah pengangkatan keduanya menuai kritik publik.
Keputusan itu membuat dua posisi tenaga ahli di kementerian kembali kosong. Dahnil menyebut jabatan tersebut akan diisi orang lain, sementara penentuan penggantinya menjadi kewenangan Menteri Haji dan Umrah.
Pengunduran diri ini muncul setelah pengangkatan kedua putra Gus Irfan ramai dibicarakan masyarakat, termasuk di media sosial. Dahnil menyampaikan keterangan itu di Jakarta, seperti dikutip dari Instagram Lambe Turah pada Selasa (27/10/2026).
Dahnil: Posisi akan diisi orang lain
Wakil Menteri Haji dan Umrah itu mengatakan dirinya bersama menteri telah menerima surat dari dua tenaga ahli tersebut. “Kami, saya dan pak Menteri sudah terima pengunduran diri dua orang tenaga ahli yang Anda sebut-sebut.
Jadi secara resmi hari ini dua orang yang disebut di berita yang disampaikan oleh publik di medsos beliau berdua memutuskan untuk mengundurkan diri dan hari ini saya dan pak Menteri sudah menerima (surat pengunduran diri),” kata Dahnil.
Ia mengatakan kementerian akan mencari pengganti untuk mengisi posisi yang ditinggalkan. Namun, Dahnil tidak menyebut siapa yang akan ditunjuk atau kapan pengisian jabatan dilakukan.
“Jadi kami akan isi tenaga ahli akan kami isi dengan orang lain nanti kita liat dan itu aadalah kebijakan pak Menteri,” ujar Dahnil.
Dengan demikian, keputusan berikutnya berada pada Menteri Haji dan Umrah. Pergantian tenaga ahli juga akan menentukan siapa yang membantu pekerjaan kementerian setelah pengunduran diri tersebut.
Berawal dari kebutuhan saat lembaga dibentuk
Dahnil menjelaskan, pengangkatan dua putra Gus Irfan berawal dari kebutuhan tenaga pendukung ketika Badan Penyelenggara Haji baru dibentuk. Saat itu, menurut dia, lembaga hanya dipimpin oleh menteri dan wakilnya, tanpa staf yang membantu tugas sehari-hari.
Dalam kondisi tersebut, sejumlah orang ikut membantu sejak tahap awal pembentukan lembaga. Dahnil mengatakan bantuan itu diberikan secara sukarela karena tenaga pendukung belum tersedia secara memadai. Dua putra Gus Irfan, kata dia, termasuk di antara orang yang membantu.
“Keramaian kemarin terkait dengan dua tenaga ahli berangkat dari kebutuhan kementerian haji di awal-awa dulu Ketika badan penyelenggara haji memang tidak ada orang yang membantu kami sejak awal secara sukarela.
Akhirnya salah duanya adalah anak pak Menteri membantu sejak awal karena saya Waktu itu tidak ada yang membantu karena badan penyelenggara haji Waktu itu hanya dua orang yaitu pak Menteri dan saya.
Waktu itu kepala dan wakil kepala akhirnya dulu saya dibantu oleh teman-teman termasuk ini, dulu tidak bergaji termasuk dua orang putranya pak Menteri,” kata Dahnil.
Dahnil juga menyatakan bantuan pada masa awal itu tidak bergaji. Ia menggambarkan situasi ketika lembaga masih bertumpu pada dua pimpinan, yakni menteri dan wakil menteri, untuk menjalankan pekerjaan awal.
Penjelasan tersebut memberi konteks tentang alasan keterlibatan kedua putra menteri menurut pihak kementerian. Namun, pengunduran diri mereka kini membuat proses pengisian tenaga ahli menjadi perhatian, terutama karena pengangkatan awalnya telah memicu kritik publik.
Bagi kementerian, posisi tenaga ahli berkaitan dengan dukungan terhadap pekerjaan sehari-hari. Kekosongan jabatan berarti kementerian perlu menentukan pengganti agar bantuan kerja tetap tersedia. Bagi publik, keputusan menteri dalam mengisi posisi itu akan menjadi perkembangan berikutnya setelah polemik pengangkatan dan pengunduran diri.
Dahnil belum mengumumkan nama pengganti maupun waktu penetapannya. Pengisian dua jabatan itu selanjutnya menunggu kebijakan Menteri Haji dan Umrah.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.