Rabu, 28 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

World Nuclear Association: Asia Tenggara Rencanakan 37 GW Nuklir hingga 2050

World Nuclear Association
World Nuclear Association

Menurut Sama, negara-negara ASEAN sebaiknya membangun regulasi, industri, dan tenaga kerja nuklir secara bersama-sama. Ia juga mendorong perencanaan sebagai program nasional, bahkan regional, alih-alih mengembangkan proyek secara terpisah. Pendekatan bersama dinilai dapat mempercepat efisiensi dan pencapaian skala ekonomi.

Koordinasi seperti itu akan menentukan bagaimana rencana kapasitas diterjemahkan menjadi program yang bisa dijalankan. Regulasi, keahlian, dan kemampuan industri bukan unsur tambahan setelah pembangkit dipilih; semuanya termasuk pekerjaan yang perlu disiapkan sejak awal. Bahan sumber tidak merinci jadwal pembangunan atau pembagian target kapasitas antarnegara.

Bagi masyarakat dan pelaku usaha, dampaknya terkait dengan bentuk sistem listrik yang tersedia. WNA menilai nilai energi nuklir perlu dilihat dari manfaat sosial, termasuk akses terhadap energi yang melimpah, terjangkau, tersedia sepanjang waktu, dan bebas karbon. Ketersediaan pasokan juga penting bagi kegiatan yang membutuhkan listrik secara konsisten, termasuk pusat data dan fasilitas industri.

Nuklir dinilai bisa menopang jaringan dan industri

Peran pembangkit nuklir, menurut Sama, dapat melampaui pasokan listrik. Dalam sistem energi yang makin terhubung, nuklir dinilai dapat membantu menjaga stabilitas jaringan, inersia, frekuensi, dan tegangan. Unsur-unsur itu berkaitan dengan ketahanan sistem ketika permintaan dan pasokan harus dijaga tetap seimbang.

WNA menyebut dukungan terhadap stabilitas jaringan berpotensi menekan harga sekaligus memperkuat sistem. Teknologi yang dapat dipertimbangkan juga beragam, mulai dari reaktor besar hingga reaktor modular kecil atau SMR. Bahan sumber tidak menyebut teknologi mana yang telah dipilih oleh negara-negara yang memiliki target nuklir.

Pembangkit nuklir juga dapat menghasilkan panas dan uap untuk kebutuhan industri. Pemanfaatan itu menjadi relevan ketika negara berupaya meninggalkan bahan bakar fosil dan batu bara, karena industri membutuhkan pasokan energi untuk menjalankan fasilitasnya.

“Ketika negara-negara ini berupaya meninggalkan bahan bakar fosil dan batu bara, energi nuklir dapat berperan sangat penting untuk memberi tenaga baru bagi fasilitas-fasilitas tersebut,” kata Sama.

WNA menempatkan energi sebagai mesin penggerak perekonomian, bukan sektor pelengkap. Karena itu, rencana hingga 2050 akan bergantung bukan hanya pada kapasitas pembangkit yang diumumkan, tetapi juga pada kebijakan, kesiapan regulator, tenaga kerja, dan industri yang dibangun untuk mendukungnya. Kapasitas nuklir yang direncanakan di Asia Tenggara mencapai sekitar 37 GW.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair