Kamis, 29 Oktober 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

TKA Tidak Wajib, tetapi Bisa Berpengaruh pada Masuk PTN

TKA Tidak Wajib, tetapi Bisa Berpengaruh pada Masuk PTN
TKA Tidak Wajib, tetapi Bisa Berpengaruh pada Masuk PTN. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Tes Kemampuan Akademik (TKA) disebut tidak wajib, tetapi sertifikatnya berpeluang menguntungkan murid saat mendaftar perguruan tinggi negeri (PTN) atau melamar pekerjaan. Perbedaan antara status sukarela dan manfaat sertifikat itulah yang membuat TKA tetap berpotensi menjadi beban bagi peserta.

Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Rahmawati, mengatakan TKA bukan ujian nasional dan nilainya tidak menentukan kelulusan. Namun, sertifikat hasil tes dapat dipakai sebagai bekal dalam seleksi akademik maupun pencarian kerja.

TKA tidak wajib, tetapi sertifikat punya nilai seleksi

Pernyataan Rahmawati menegaskan bahwa murid tidak dipaksa mengikuti TKA. Tes ini berbeda dari ujian nasional pada masa sebelumnya, yang lekat dengan penentuan kelulusan. Dalam kerangka itu, murid tidak semestinya merasa harus mengikuti TKA hanya untuk menuntaskan sekolah.

Namun, manfaat sertifikat membuat pilihan tersebut tidak sesederhana ikut atau tidak. Seperti diberitakan Kompas.id pada 21 Oktober 2026, siswa yang memiliki sertifikat TKA dinilai lebih diuntungkan ketika bersaing masuk PTN ataupun melamar pekerjaan.

Bagi murid dan keluarga, kondisi ini dapat memunculkan tekanan meski keikutsertaan secara resmi bersifat sukarela. Jika dokumen hasil tes memberi keunggulan dalam seleksi, peserta bisa merasa perlu mengikuti TKA agar tidak tertinggal dari pesaing yang memilikinya. Dampaknya bukan pada kelulusan sekolah, melainkan pada persiapan menuju pendidikan lanjutan dan pekerjaan.

Tujuan TKA dan kaitannya dengan seleksi akademik

Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 9 Tahun 2025 menyebut TKA bertujuan memperoleh informasi capaian akademik murid yang terstandar untuk keperluan seleksi akademik. Dengan tujuan itu, hasil tes memang dapat memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar pemetaan kemampuan.

Ketika TKA hanya dipakai untuk melihat capaian akademik, hasilnya bisa dipahami sebagai informasi tentang kemampuan murid. Beban muncul saat hasil tersebut ikut dipertimbangkan dalam keputusan seleksi yang menentukan kesempatan masuk perguruan tinggi.

Kompas.id pada 4 September 2026 melaporkan bobot nilai TKA jenjang SMA berpotensi ditingkatkan sebagai salah satu indikator penilaian penerimaan mahasiswa baru jalur prestasi pada 2027. Jika bobot itu bertambah, nilai TKA berpotensi makin menentukan posisi pendaftar dalam persaingan jalur tersebut.

Perubahan itu penting bagi murid SMA yang menargetkan seleksi jalur prestasi. TKA mungkin tidak menjadi syarat kelulusan, tetapi hasilnya dapat membawa konsekuensi pada peluang melanjutkan pendidikan. Perbedaan antara tidak wajib dan tetap berguna dalam seleksi pun menjadi semakin terasa.

Karena itu, pesan bahwa murid tidak perlu terbebani perlu dibaca bersama fungsi sertifikat dan kemungkinan perubahan bobot penilaian. Status sukarela menjelaskan aturan keikutsertaan, sedangkan manfaat sertifikat menjelaskan alasan peserta mungkin merasa perlu ikut. Rahmawati menyatakan TKA tidak menentukan kelulusan murid.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Hari Pahlawan 2026: Selasa 10 November, Kisah Surabaya dan Status Tema Kemensos