JAKARTA — IHSG melemah 1,29% ke level 4.994 pada pembukaan perdagangan Senin (2/11), saat Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai mengecualikan saham kategori konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan indeks. Pergerakan itu terjadi pada hari pertama penerapan kebijakan yang mengurangi jumlah saham penghitung IHSG.
Data bursa mencatat volume transaksi mencapai 2,61 miliar saham dengan nilai Rp 758,39 miliar. Kapitalisasi pasar BEI turun menjadi Rp 8.746 triliun.
IHSG melemah saat aturan saham HSC berlaku
BEI mengeluarkan 82 saham HSC dari komposisi perhitungan IHSG. Jumlah saham yang diperhitungkan pun berkurang dari sebelumnya 963 menjadi 881 saham.
Meski demikian, BEI menyatakan perubahan komposisi itu tidak mengubah level awal indeks pada perdagangan hari tersebut. Acuannya tetap penutupan sebelumnya di posisi 5.057. Bobot saham yang dikeluarkan dialihkan kepada saham lain yang masih menjadi konstituen indeks.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan mekanismenya serupa dengan penghapusan pencatatan saham atau delisting. “Bobot dari saham-saham yang dikeluarkan akan didistribusikan ke sisa saham konstituen yang ada,” ujar Jeffrey dalam acara media gathering di Lombok, akhir pekan sebelumnya.
Perbedaan antara level acuan penutupan sebelumnya dan posisi pembukaan yang tercatat dalam data bursa menandai pelemahan pada awal perdagangan. Namun, pernyataan BEI soal pengalihan bobot menjelaskan bahwa pengurangan saham HSC tidak dengan sendirinya mengubah bobot indeks ketika kebijakan mulai diterapkan.
Apa dampak kebijakan HSC bagi pergerakan indeks?
Perubahan ini penting bagi investor karena IHSG kini menghitung lebih sedikit saham. Dengan 82 saham dikeluarkan dan bobotnya dialihkan, susunan konstituen yang tersisa menjadi lebih menentukan pergerakan indeks. Kebijakan itu juga berlangsung saat investor mencermati kualitas dan transparansi IHSG.
BEI mengambil langkah tersebut setelah MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market). Dalam konteks itu, pengecualian saham HSC menjadi perubahan pada metodologi indeks yang diperhatikan pelaku pasar, bukan sekadar perubahan jumlah saham di dalamnya.
Respons saham pada pembukaan perdagangan tidak seragam. Sejumlah saham bank berkapitalisasi besar bergerak naik. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 0,9% ke 5.025, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 0,36% ke 2.810, sedangkan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) bertambah 0,27% ke 3.730.
Saham yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu justru terkoreksi. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turun 4,71% ke 364, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) merosot 6,07% ke 1.005, dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) melemah 4,14% ke 324.
BRI Danareksa melihat IHSG masih bearish
Tim riset BRI Danareksa menilai IHSG masih berada dalam tren bearish dan berpotensi menguji area support 5.026–4.942. Mereka mencatat candle terakhir menunjukkan respons beli di bawah 5.000, tetapi indikator MACD masih negatif dengan garis MACD berada di bawah signal line.
Tim riset itu menyebut peluang konsolidasi atau technical rebound masih terbuka selama area support bertahan. Resistance terdekat yang mereka pantau berada di 5.116–5.170.
Support adalah area harga yang dipandang sebagai titik rendah dan dapat menarik pembelian. Sebaliknya, resistance menjadi tingkat harga yang dapat menahan kenaikan ketika aksi jual meningkat. Level-level tersebut memberi gambaran area yang sedang dicermati dalam membaca arah indeks.
Bagi investor, pelemahan IHSG dan perbedaan arah saham pada pembukaan menunjukkan bahwa dampak kebijakan perlu dibaca bersama pergerakan konstituen lain. BEI menyatakan bobot 82 saham yang dikeluarkan dialihkan ke saham tersisa, sementara tim riset BRI Danareksa menempatkan 5.026–4.942 sebagai area support yang perlu dicermati.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.