JAKARTA — AI slop yang memuji Donald Trump disebut rutin ditampilkan kepada Presiden Amerika Serikat itu, sementara kritik terhadapnya diduga makin sulit menembus lingkaran dekatnya. Konten buatan kecerdasan buatan itu berupa gambar, video, dan pesan yang juga menyerang lawan politik Trump.
Trump sendiri rutin menyebarkan materi serupa di media sosial. Perhatian terhadap konten pujian ini memunculkan kekhawatiran bahwa presiden semakin terpisah dari pandangan yang berbeda, termasuk saat keputusan politik besar dipertimbangkan.
Bagaimana AI slop mendekati Trump?
Bill Pulte, pejabat tinggi perumahan Amerika Serikat, disebut kerap menemani Trump di kabin pesawat kepresidenan sambil menunjukkan gambar, meme, dan dokumen yang sebagian besar dibuat dengan AI. Kebiasaan itu membuat materi pujian dapat hadir langsung di sekitar presiden.
Seorang pejabat menggambarkan peran Pulte seperti “pelawak istana” yang menghibur Trump dengan hal-hal yang disukainya. Gambaran tersebut menyoroti risiko ketika orang-orang di sekitar pemimpin lebih sering menyodorkan materi yang menguatkan pandangannya ketimbang kritik.
Kontennya ramai. Kritiknya menjauh.
AI slop merujuk pada konten buatan AI yang diproduksi massal dan dibagikan di media sosial. Dalam kasus Trump, materi itu bukan sekadar hiburan daring: konten yang memuji presiden sekaligus mencela lawan politik berpotensi membentuk lingkungan informasi yang berat sebelah.
Apa dampaknya bagi kebijakan dan kritik publik?
Kekhawatiran tentang pengaruh AI menguat setelah laporan majalah TIME menyebut percakapan Trump dengan Grok, sistem kecerdasan buatan milik Elon Musk, diduga mendorongnya mempertimbangkan invasi ke Venezuela untuk menangkap Presiden Nicolás Maduro.
Informasi itu menyangkut kemungkinan penggunaan saran dari sistem AI dalam pertimbangan kebijakan luar negeri. Bagi masyarakat, taruhannya bukan hanya soal apakah presiden menyukai meme, melainkan apakah keputusan negara mendapat masukan yang beragam dan diuji secara kritis.
Anggota Partai Demokrat menuntut isi percakapan Trump dengan Grok dipublikasikan. Mereka ingin mengetahui sejauh mana saran sistem tersebut memengaruhi pertimbangan terkait Venezuela.
Permintaan itu menjadikan transparansi sebagai pokok persoalan. Jika isi percakapan dibuka, publik dapat menilai konteks saran AI dan bagaimana presiden menanggapinya. Hingga tuntutan itu diajukan, belum ada rincian isi percakapan yang dipaparkan dalam laporan.
Meme pujian berhadapan dengan kritik langsung
Ketegangan antara pujian digital dan kritik nyata terlihat saat pelawak Bill Maher mengolok-olok Trump. Presiden kemudian mengunggah kemarahan sepanjang 1.300 kata di Truth Social.
Respons itu memberi contoh bagaimana kritik dapat memicu reaksi langsung, sementara konten AI yang menyenangkan presiden terus beredar di lingkaran dekatnya. Perbedaan itu penting: pemimpin yang menerima lebih banyak pujian daripada sanggahan berisiko mengambil keputusan tanpa gambaran utuh tentang keberatan publik.
Kasus ini juga memperlihatkan bahwa peran AI dalam politik tidak berhenti pada pembuatan gambar atau video. Sistem dan konten buatan AI dapat masuk ke ruang percakapan pemimpin, lalu memengaruhi bahan yang mereka lihat saat membentuk pandangan.
Namun, klaim tentang dampak Grok pada pertimbangan Venezuela masih dikaitkan dengan laporan majalah TIME, sementara isi percakapan menjadi hal yang diminta untuk dibuka oleh anggota Demokrat.
Di tengah tuntutan agar percakapan itu dipublikasikan, pertanyaan yang belum terjawab adalah seberapa besar saran Grok benar-benar memengaruhi pertimbangan Trump mengenai Venezuela.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.