JAKARTA — Banjir lahar Semeru mendorong Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menginstruksikan pemetaan dampak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Kementerian PU memeriksa infrastruktur sumber daya air sambil menunggu lokasi aman untuk penanganan fisik.
Langkah itu menentukan kapan alat berat dan personel bisa dikerahkan tanpa menambah risiko bagi petugas maupun warga. Meski air Sungai Regoyo telah surut, hujan tinggi masih membuat debit sungai berpotensi meningkat.
Bagaimana penanganan banjir lahar Semeru disiapkan?
Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Balai Besar Wilayah Sungai Brantas melakukan identifikasi dan inventarisasi dampak. Pemeriksaan ditujukan untuk mengetahui kondisi infrastruktur yang terdampak serta kebutuhan penanganan di setiap lokasi.
Menteri PU Dody Hanggodo menyatakan kementeriannya mengerahkan sumber daya untuk menangani dampak bencana. “Kementerian PU berkomitmen untuk menangani dampak bencana dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada. Keselamatan dan pemulihan warga terdampak menjadi prioritas utama kami,” kata Dody dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
BBWS Brantas juga menyiapkan bahan banjiran dan alat berat untuk mendukung respons darurat. Namun, pengerahan dan penanganan fisik menunggu kondisi lapangan dinyatakan aman.
Belum aman untuk bekerja.
Instansi itu berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pos Pengamatan Gunung Api Semeru. Pemantauan mencakup perkembangan aktivitas vulkanik, cuaca, serta potensi kenaikan debit sungai agar langkah penanganan mengikuti situasi terkini.
Hujan tinggi masih jadi ancaman
Banjir lahar dingin terjadi setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur kawasan puncak dan lereng Semeru serta wilayah di sekitar aliran sungai. Peristiwa berlangsung pada Senin (2/11), sekitar pukul 00.14 hingga 05.32 WIB.
Laporan BBWS Brantas mencatat curah hujan mencapai 134,6 mm dalam akumulasi pengamatan pukul 00.00–06.30 WIB. Hujan itu meningkatkan debit sungai yang membawa material vulkanik dengan perkiraan ukuran material (amax) 25–65 mm.
Surutnya air Sungai Regoyo belum menghapus ancaman. Curah hujan di kawasan Gunung Semeru masih tinggi, sehingga potensi kenaikan debit perlu diwaspadai. Bagi warga, kondisi ini berarti aktivitas di sekitar sungai tetap berisiko meski aliran terlihat lebih tenang.
Masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Area itu berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar.
BBWS Brantas melanjutkan inventarisasi untuk mengukur kerusakan dan menentukan kebutuhan penanganan tiap lokasi. Setelah kondisi dinyatakan aman, instansi tersebut akan memobilisasi alat berat, personel tanggap darurat, serta material penanganan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.