“Ya, ini kan negara demokrasi. Sepanjang dilakukan dengan aturan yang ada dalam menyampaikan pendapat, ya silakan saja. Sekarang kan tinggal tergantung TV-nya. Menunjukkan bahwa demo itu tidaklah selalu otomatis wajib sebagai suatu perubahan,” ujar Minola di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada Kamis (5/11/2026).
Menurut Minola, Ruben menyikapi kemungkinan kehilangan pekerjaan dengan menyerahkan soal rezeki kepada Tuhan. Sikap itu menjadi konteks lain di tengah tuntutan demonstran: aksi tersebut menyuarakan tekanan publik, tetapi keputusan mengenai program tetap berada pada stasiun televisi.
Dampaknya bagi Ruben bergantung pada respons masing-masing stasiun, sementara seruan kepada KPI menunjukkan demonstran ingin tuntutan mereka mendapat perhatian lembaga penyiaran. Bagi publik, unggahan Ruben dan dokumentasi aksi membuat dua hal berbeda terus diperbincangkan: tuntutan boikot di ruang publik serta identitas orang yang disebutnya terkait percakapan grup.
Seruan boikot terhadap Ruben juga pernah muncul melalui petisi di Change.org. Polemik yang disebut dalam bahan pemberitaan berkaitan dengan perbincangan mengenai video call yang beredar dan persoalan yang melibatkan Ruben dengan mantan istrinya, Sarwendah. Namun, demonstrasi dan petisi merupakan saluran tuntutan yang berbeda.
Minola menyatakan Ruben memandang pekerjaan dan popularitas sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya. “Semua itu kan adalah milik Tuhan. Apapun yang ada bersama kita kan itu titipan, kapan pun bisa diambil,” ujar Minola.
Di sisi lain, Ruben meminta informasi mengenai orang dalam foto yang ia unggah dan mempertanyakan pesan grup yang dihapus. Unggahan itu menyebut Bang Epul; tuntutan demonstran sebelumnya meminta Ruben tidak lagi tampil di televisi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.