Kebakaran tersebut terjadi di Fashion Logistics Center di Cheonan. Pencarian gambar terbalik menemukan kecocokan antara bangunan dalam video dan tampilan jalan di Naver Maps. Lokasinya juga sesuai dengan bangunan merah di kawasan pegunungan yang terlihat dalam citra satelit Google Maps.
Petunjuk visualnya cukup spesifik: bentuk gedung, tulisan putih “E-Land fashion” di sisi kanan, serta pegunungan di latar. Jadi, rekaman kebakaran itu tidak menunjukkan serangan terbaru ke pangkalan AS.
Video yang sama berulang kali dipakai dengan narasi konflik berbeda. Pada Juli tahun ini, rekaman itu beredar bersama unggahan berbahasa Tamil dan Inggris tentang perang Iran; salah satu unggahan di X meraih 1,4 juta penayangan. Konten serupa juga pernah dikaitkan dengan perang di Yaman dan konflik lain yang tidak berhubungan dengan kebakaran di Korea Selatan.
Bagaimana klaim rudal hipersonik menyebar?
Belum ada laporan kredibel mengenai serangan rudal hipersonik Iran dalam eskalasi terbaru. Klaim di X yang menyebut sejumlah pangkalan militer Israel menjadi sasaran telah ditonton 2,5 juta kali saat informasi itu diperiksa.
Iran mengklaim memiliki rudal hipersonik dan sebelumnya menyatakan telah menembakkan rudal Fattah-1 ke Israel, terakhir pada Juni 2025. Namun, klaim kepemilikan dan pernyataan tentang serangan terdahulu tidak membuktikan bahwa serangan hipersonik terjadi dalam perkembangan terbaru.
Charlene Lin, analis dari pengawas informasi NewsGuard, mengatakan akun yang menyebarkan klaim itu merupakan bagian dari pabrik konten yang berbasis di Asia Selatan. Akun tersebut juga pernah ditandai dalam kaitannya dengan narasi disinformasi lain.
Lin menulis bahwa pabrik konten semacam itu di Asia Selatan “tampaknya menyebarkan klaim palsu tentang geopolitik dengan menyamar sebagai pengguna pro-China, pro-Rusia, atau pro-Iran.” Ia menambahkan, akun-akun yang diduga berada dalam jaringan sama sering menguatkan klaim palsu dalam rentang waktu berdekatan.
Victoire Rio, pakar monetisasi media sosial dan integritas informasi, mengatakan kepada pemeriksa fakta bahwa pelaku yang mengejar keuntungan finansial dari Asia Selatan dan Asia Tenggara kerap memanfaatkan isu besar untuk meraup pendapatan dari keterlibatan pengguna di platform seperti X.
Dampak unggahan palsu bagi pembaca
Ketika gambar lama atau video buatan AI dibagikan sebagai kabar terbaru, pembaca dapat mengira konflik telah memasuki tahap yang lebih luas daripada yang terkonfirmasi. Risiko itu bertambah saat unggahan memperoleh jutaan penayangan dan tampil berdampingan dengan kabar perang yang benar-benar terjadi.
Dalam kasus ini, angka penayangan tidak membuktikan kebenaran klaim. Video kapal induk sudah beredar sebelum serangan terbaru, kebakaran berasal dari Korea Selatan, dan klaim serangan hipersonik tidak didukung laporan kredibel. Perbedaan antara klaim, bukti visual, dan laporan yang dapat dipercaya menjadi penting saat kabar konflik bergerak cepat di media sosial.
Serangan AS ke Iran terjadi pada Senin, sehari sebelum pemilihan sela AS. Presiden Donald Trump sebelumnya mengatakan tidak akan ada serangan baru sebelum pemilihan.
Wakil Presiden AS JD Vance kemudian mengaitkan kekalahan besar Partai Republik di Dewan Perwakilan dan Senat dengan perang AS-Israel melawan Iran. Di tengah perkembangan politik dan militer itu, unggahan baru tentang konflik masih perlu diperiksa berdasarkan asal rekaman dan bukti yang menyertainya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.