JAKARTA — Sifat tamak dalam Islam dipandang sebagai penyakit hati yang dapat mendorong seseorang mengejar harta dan kekuasaan tanpa memedulikan hak orang lain. Mutohharun Jinan, pengajar Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, menyebut ketamakan sebagai salah satu sumber persoalan dan petaka bagi masyarakat maupun bangsa.
Dampaknya tidak berhenti pada diri sendiri. Korupsi, perampokan, penipuan, dan perampasan hak orang lain disebut sebagai perilaku yang dapat berakar dari sikap serakah.
Apa arti sifat tamak dalam Islam?
Sifat tamak dalam Islam merujuk pada keinginan berlebihan untuk memiliki atau memperoleh keuntungan, terutama dalam urusan kebendaan. Sikap itu membuat seseorang terus mengejar tambahan harta tanpa mempertimbangkan batas halal dan haram.
Dalam ajaran Islam, rakus juga dikenal dengan istilah al-hirshu atau ath-thama’u. Intinya, seseorang tidak pernah merasa cukup dan terus ingin menambah miliknya, bahkan ketika keinginan itu mengabaikan hak orang lain.
Ukurannya bukan semata-mata jumlah harta. Seseorang bisa dikuasai ketamakan ketika kepentingan dirinya atau kelompoknya selalu didahulukan, sementara kewajiban berbagi dan batas moral dikesampingkan.
Sikap ini juga dapat muncul dalam hubungan sehari-hari. Orang yang selalu mengharapkan pemberian, tetapi enggan berbagi, memperlihatkan ketimpangan antara keinginan menerima dan kesediaan memberi. Ketika pola itu menetap, rasa cukup dan syukur semakin sulit tumbuh.
Bagaimana ketamakan merembet ke kehidupan masyarakat?
Keinginan mengumpulkan harta atau mengejar kuasa dapat menggeser pertimbangan tentang benar dan salah. Ketika ambisi pribadi menjadi ukuran utama, kepentingan orang lain mudah diabaikan. Bahkan, seseorang bisa menempuh cara yang bertentangan dengan batas halal dan haram.
Di masyarakat, dampaknya terasa pada hak dan kepercayaan. Korupsi, penipuan, perampokan, serta tindakan mengambil hak orang lain merugikan pihak yang menjadi sasaran sekaligus merusak hubungan sosial. Orang menjadi sulit percaya ketika kepentingan pribadi terus menang atas keadilan.
Jinan menempatkan ketamakan bersama hasrat berkuasa dan keinginan memiliki sesuatu secara berlebihan sebagai sumber persoalan kehidupan masyarakat dan bangsa. Penjelasan itu menunjukkan bahwa kerakusan bukan hanya urusan batin pribadi: perilakunya dapat membawa akibat yang lebih luas ketika diterapkan dalam kehidupan bersama.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.