Senin, 9 November 2026 WIB
LIFESTYLE

Festival Budaya Bugis Sintang Digelar 7 November 2026, Abdi Mahesa Berpesan

Festival Budaya Bugis Sintang Digelar 7 November 2026, Abdi Mahesa Berpesan
Festival Budaya Bugis Sintang Digelar 7 November 2026, Abdi Mahesa Berpesan. (Ilustrasi: AI)

“Orang Bugis itu memiliki dua tangan. Tangan kiri untuk memegang masa lalu, dan tangan kanan untuk menjemput masa depan,” ujar Abdi Mahesa, budayawan muda asal Sulawesi Selatan, dalam orasi budaya di Festival Budaya Bugis, Sintang.

Forum Komunikasi Orang Bugis (FKOB) menggelar festival itu di Gedung Mujahidin, Kabupaten Sintang, Sabtu, 7 November 2026. Perhelatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat perantauan Bugis untuk meneguhkan identitas dan tradisi leluhur di tanah Borneo.

Pesan Abdi menekankan bahwa merawat warisan bukan berarti berpaling dari perubahan. Menurut dia, kecintaan pada adat perlu berjalan seiring dengan kemampuan menyambut perkembangan zaman.

Dalam orasinya, Abdi juga menjelaskan posisi FKOB. Ia menyebut organisasi itu bukan organisasi politik, melainkan wadah yang berfokus pada pelestarian kebudayaan dengan semangat “membugiskan orang Bugis”.

Semangat itu berpijak pada upaya menjaga identitas Bugis di lingkungan perantauan. FKOB, menurut Abdi, menjembatani nilai leluhur dengan kehidupan masa kini melalui filosofi Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge.

Ketiga filosofi itu menggambarkan sikap saling memuliakan, menghormati, dan mengingatkan. Nilai-nilai tersebut menjadi pegangan yang disampaikan dalam festival, sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian budaya juga menyangkut cara masyarakat berhubungan satu sama lain.

Acara itu menghadirkan tradisi Matompang, yakni pencucian pusaka yang bersifat sakral. Festival juga dimeriahkan Tari Alosu dan sajian Barong, sehingga kegiatan budaya tampil melalui ritual, seni tari, dan pertunjukan.

Bagi masyarakat Bugis di Sintang, rangkaian tersebut menghadirkan tradisi leluhur dalam sebuah perhelatan bersama. Pesan tentang masa lalu dan masa depan memberi bingkai pada kegiatan itu: adat tetap dijaga, sementara generasi berikutnya diajak mengenali identitasnya.

Festival ini juga membawa sudut lokal tentang pelestarian budaya di Indonesia. Di Sintang, upaya itu tampak melalui kegiatan FKOB dan pengenalan tradisi Bugis kepada para tamu undangan.

Namun, bahan acara hanya menyebut kehadiran tamu undangan dan tidak merinci program khusus bagi anak muda. Pesan Abdi tetap menempatkan masa depan sebagai bagian dari pelestarian: tangan kiri memegang masa lalu, tangan kanan menjemput masa depan.

(AS)

Artikel Untuk Anda

📲
Ikuti JournalArta di WhatsApp & Telegram

Berita terpenting nasional, ekonomi, dan teknologi langsung di HP-mu. Gratis, tanpa spam.

Bagikan: Facebook Twitter Telegram
Uji dirimuKuis Sejarah Hari Pahlawan: 10 Soal Pertempuran Surabaya 1945, Berapa Skormu? →
TRENDING Isra Mikraj 2027: Tanggal Libur, Sejarah Singkat, dan Amalan Menurut NU-Muhammadiyah