MOMBASA — Hukuman 200 tahun penjara bagi Paul Mackenzie menutup perkara pembunuhan 190 anak dan satu orang dewasa di Kenya, tetapi juga menyoroti bagaimana pengikut sekte itu dikendalikan. Pengadilan di Mombasa menjatuhkan vonis kepada pemimpin sekte kiamat tersebut setelah menyatakannya bersalah dua minggu sebelumnya.
Kasus ini terkait tragedi Shakahola, ketika polisi menemukan mayat korban di kuburan dangkal di hutan Shakahola. Beberapa korban dikubur hidup-hidup. Mackenzie ditangkap pada 2023 setelah polisi menerima informasi mengenai kejadian itu.
Paul Mackenzie dan vonis 200 tahun penjara
Jaksa penuntut menyatakan Mackenzie memimpin Good News International, sebuah gereja yang menjalankan sekte kiamat Kristen. Para anggota diperintahkan untuk tidak makan, termasuk anak-anak, dengan keyakinan mereka akan masuk surga sebelum dunia berakhir.
Tekanan terhadap pengikut tidak berhenti pada ajaran. Jaksa mengatakan anggota diancam dan dipukuli agar mematuhi perintah. Polisi kemudian menemukan korban di area kuburan dangkal di hutan Shakahola, lokasi yang menjadi pusat perkara ini.
Mackenzie membantah tuduhan pembunuhan dan menyatakan ia tidak memaksa para korban untuk membiarkan diri kelaparan. Pengadilan menolak argumen tersebut dan menjatuhkan hukuman 200 tahun penjara.
Bagaimana sekte Shakahola mengendalikan pengikut?
Pengikut sekte dilarang menyekolahkan anak dan mencari perawatan medis ketika sakit. Mackenzie menyebut sekolah dan fasilitas medis sebagai “lembaga setan”. Anggota tinggal di rumah darurat yang terbuat dari terpal dan jerami di hutan Shakahola.
Larangan itu membawa dampak langsung bagi anak-anak dan keluarga di dalam sekte: mereka kehilangan akses ke pendidikan dan pertolongan medis, sementara perintah untuk tidak makan membuat anak-anak ikut menghadapi bahaya kelaparan. Dalam perkara ini, jaksa mengaitkan ajaran sekte dengan kematian 190 anak dan satu orang dewasa.
Perhatian terhadap Mackenzie sebenarnya sudah muncul sebelum penemuan kuburan massal. Polisi menggeledah tempat usahanya pada 2017. Dua tahun kemudian, pihak berwenang menutup gerejanya, lalu Mackenzie pindah ke hutan Shakahola.
Penderitaan para pengikut mulai terungkap pada Maret 2023, setelah seorang pria memberi tahu polisi bahwa saudaranya membuat anak mereka kelaparan hingga mati di hutan atas perintah Mackenzie. Informasi itu mendahului penangkapan pemimpin sekte tersebut dan penemuan jasad di kuburan-kuburan dangkal beberapa pekan kemudian.
Tragedi Shakahola mengguncang Kenya sejak kuburan massal ditemukan. Perkara itu kemudian berujung pada vonis terhadap Mackenzie, yang menyangkal memaksa pengikutnya kelaparan, tetapi dinyatakan bersalah oleh pengadilan di Mombasa.









📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.