SURABAYA — Marlupi Dance Academy tetap menggelar pertunjukan balet untuk merayakan 70 tahun akademi, meski pendirinya, Marlupi Sijangga, meninggal dunia pada usia 90 tahun. Pertunjukan yang telah disiapkan untuk puncak perayaan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, disiarkan langsung ke rumah duka Adi Jasa, Surabaya.
Keputusan itu membuat keluarga dapat menyaksikan acara dari ruang tempat jenazah Marlupi disemayamkan. Putri sulungnya, Fifi Sijangga, terlihat bertepuk tangan sambil menangis ketika pertunjukan tampil di layar besar.
Lima layar lain dipasang di sejumlah sudut ruang duka. Keluarga dan pelayat mengikuti pertunjukan dari sana, menghubungkan perayaan akademi di Jakarta dengan suasana duka di Surabaya.
Marlupi Dance Academy dan pertunjukan untuk pendirinya
Marlupi semula ingin perayaan usia akademi yang ke-70 ditandai dengan pertunjukan istimewa di Taman Ismail Marzuki. Persiapan telah berjalan dan acara tidak dibatalkan setelah ia meninggal. Pertunjukan itu sekaligus menjadi penghormatan bagi sosok yang membangun akademi balet tersebut.
Di ruang duka, Fifi duduk bersama dua saudara kembarnya, Mar Dwatmadja dan Mar Dwatmadji. Nama “Mar” yang menjadi awalan nama si kembar diambil dari nama ibu mereka.
Fifi beberapa kali menunjuk layar saat mengenali orang-orang yang tampil. Dalam suasana yang diwarnai tangis, penonton tetap memberikan tepuk tangan kepada para penari.
Seberapa besar Marlupi Dance Academy?
Marlupi Dance Academy memiliki lebih dari 50 cabang di seluruh Indonesia dan menampung 3.500 siswa. Pertumbuhan akademi paling pesat terjadi di Jakarta, dengan lebih dari 25 cabang.
Jangkauan itu memberi konteks pada arti perayaan 70 tahun bagi keluarga dan komunitas balet. Akademi yang dirintis Marlupi terus berkembang, sementara pertunjukan yang telah direncanakan tetap berlangsung sebagai bagian dari penghormatan kepadanya.
Informasi mengenai cabang dan jumlah siswa menunjukkan bahwa perayaan tersebut tidak hanya berpusat pada satu panggung. Banyak siswa dan komunitas di berbagai daerah terhubung dengan akademi yang dibangun Marlupi. Karena itu, keputusan mempertahankan acara memberi ruang bagi penghormatan bersama, sekaligus memungkinkan keluarga di Surabaya menyaksikan puncak perayaan dari rumah duka.
Marlupi meninggal pada usia 90 tahun. Usia itu mengikuti kebiasaan adat Tionghoa yang membulatkan angka 89 menjadi 90. Kepergiannya berdekatan dengan peringatan 70 tahun akademi yang didirikannya.
Pertunjukan di Jakarta tetap menjadi puncak acara, sementara siaran langsung membawa suasana panggung ke rumah duka. Dari layar, keluarga menyaksikan para penari dan terus memberi tepuk tangan. Rencana pertunjukan di Taman Ismail Marzuki pun menjadi langkah berikutnya dalam perayaan yang telah dipersiapkan Marlupi.









📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.