Senin, 9 November 2026 WIB
EKONOMI

Imbal Hasil Treasury Naik, Risiko Utang AS Jadi Perhatian

Imbal Hasil Treasury dan tumpukan dokumen utang pemerintah Amerika Serikat
Kenaikan imbal hasil Treasury memicu perdebatan tentang risiko utang pemerintah AS dan penerbitan obligasi perusahaan AI. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun sempat menembus 5 persen setelah perang Iran dimulai pada akhir Februari, dan ekonom Robin Brooks menilai tekanan itu lebih terkait risiko fiskal ketimbang utang perusahaan AI. Penjualan saham besar-besaran pada pekan lalu, menurut Brooks, membantu menguji dua penjelasan yang bersaing di pasar.

Angka tersebut menandai kenaikan lebih dari 100 basis poin sebelum imbal hasil turun dalam beberapa pekan terakhir saat investor mencari perlindungan pada obligasi pemerintah AS. Bagi pemerintah AS, biaya pinjaman yang tinggi berpotensi menambah beban pembayaran bunga ketika defisit dan utang negara juga besar.

Imbal hasil Treasury dan perdebatan utang AI

Kenaikan imbal hasil mulai berlangsung setelah perang Iran mendorong harga minyak naik. Investor lalu memperkirakan Federal Reserve, bank sentral AS, dapat menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi yang kembali menguat.

Pada saat yang sama, perusahaan teknologi besar yang dikenal sebagai hyperscaler menerbitkan lebih banyak obligasi untuk membiayai belanja infrastruktur AI. Penerbitan itu bersaing mendapatkan dana investor, sementara Departemen Keuangan AS juga meminjam untuk menutup defisit anggaran sekitar 2 triliun dolar AS dan membayar bunga utang nasional sebesar 40 triliun dolar AS.

Sebagian pelaku Wall Street menilai banjir obligasi perusahaan AI membuat investor meminta imbal hasil lebih tinggi atas surat utang pemerintah. Robin Brooks, peneliti senior di Brookings Institution, menolak penjelasan tersebut.

Dalam tulisannya pada Sabtu, ia menyebut gejolak pasar pekan lalu sebagai eksperimen alami untuk menguji apakah tekanan berasal dari pinjaman korporasi atau kondisi fiskal pemerintah.

Brooks membandingkan utang perusahaan dengan pinjaman pemerintah. Menurut dia, pinjaman korporasi masih jauh di bawah tingkat pada gelembung teknologi awal 2000-an, sedangkan pinjaman publik berada pada level tinggi secara historis. Ia menilai kondisi fiskal lebih mungkin mendorong kenaikan imbal hasil.

Indikator pasar mengarah pada risiko fiskal

Brooks juga menyoroti reaksi pasar setelah laporan ketenagakerjaan bulanan menunjukkan pertumbuhan jumlah pekerja lebih dari dua kali perkiraan konsensus. Dibandingkan kejutan positif sebelumnya, imbal hasil Treasury dua tahun naik lebih besar daripada yang dapat dijelaskan oleh pertumbuhan ekonomi yang kuat saja.

Halaman:12Semua Halaman

(AN)

Artikel Untuk Anda

📲
Ikuti JournalArta di WhatsApp & Telegram

Berita terpenting nasional, ekonomi, dan teknologi langsung di HP-mu. Gratis, tanpa spam.

Bagikan: Facebook Twitter Telegram
Uji dirimuKuis Sejarah Hari Pahlawan: 10 Soal Pertempuran Surabaya 1945, Berapa Skormu? →
TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair