WASHINGTON — JD Vance belum memutuskan maju sebagai capres pada 2028, sementara donatur Partai Republik mulai meragukan peluangnya setelah partai itu kalah dalam pemilihan paruh waktu. Sejumlah penyumbang besar bahkan mempertimbangkan kandidat lain, termasuk Gubernur Florida Ron DeSantis.
Kerugian politik itu menguji kekuatan koalisi Donald Trump dan menempatkan Vance dalam posisi sulit sebagai wakil presiden. Bagi Partai Republik, persoalannya bukan hanya siapa yang akan maju, melainkan apakah calon dari pemerintahan saat ini dapat melepaskan diri dari dampak kekalahan pemilu.
JD Vance 2028 dan sikap para donatur
Vance mengaku kepada rekan-rekannya bahwa ia belum menentukan langkah, baik sebelum maupun setelah pemilihan paruh waktu. Orang-orang dekatnya juga menyebut ia belum mengambil keputusan untuk mencalonkan diri.
Keraguan itu muncul setelah Partai Demokrat merebut tujuh kursi Senat yang sebelumnya dikuasai Partai Republik. Salah satunya berada di Ohio, negara bagian yang pernah diwakili Vance. Partai Demokrat juga kembali memenangkan jabatan gubernur di Georgia dan Texas, dua negara bagian yang secara tradisional menjadi basis Republik.
Hasil pemilu tersebut memicu pertanyaan mengenai daya tarik koalisi Trump. Sejumlah sekutu Vance menilai secara pribadi bahwa kandidat Republik mana pun akan sulit memenangkan kursi kepresidenan dalam dua tahun ke depan.
Kekalahan pemilu mengubah arah dukungan
Dalam 24 jam setelah pemungutan suara, seorang penggalang dana senior di New York mulai menerima telepon dari para donatur kaya Partai Republik. Mereka mengatakan tidak dapat mendukung Vance pada 2028.
Beberapa penyumbang mengalihkan perhatian kepada Ron DeSantis dan calon potensial lain. Mereka khawatir kandidat yang berasal dari pemerintahan akan terlalu lekat dengan Trump, lalu ikut menanggung beban politik dari kekalahan pemilihan paruh waktu.
Dampaknya terasa langsung pada upaya Vance membangun dukungan untuk pencalonan. Donatur berpengaruh dapat membantu membiayai kegiatan politik dan menggalang sokongan, sehingga keraguan mereka membuat posisi Vance lebih sulit. Namun, bahan yang tersedia belum menunjukkan adanya keputusan resmi dari Vance atau dukungan formal para donatur kepada kandidat pengganti.
Keterkaitan dengan Trump jadi pertimbangan
Vance menjabat wakil presiden dalam pemerintahan Trump, sehingga pencalonannya berpotensi dinilai melalui kinerja pemerintahan yang sama. Kekalahan di sejumlah kontestasi negara bagian memperbesar perhatian terhadap hubungan itu, terutama ketika para penyumbang mulai membicarakan alternatif.
Angka tujuh kursi Senat yang direbut Demokrat menjadi salah satu gambaran paling konkret dari hasil pemilihan paruh waktu tersebut. Kursi Ohio juga memiliki arti khusus bagi Vance karena ia pernah mendudukinya. Sementara itu, kemenangan kembali Demokrat dalam pemilihan gubernur Georgia dan Texas memperkuat kekhawatiran tentang jangkauan dukungan Republik.
Belum ada kepastian bahwa Vance akan masuk persaingan presiden. Untuk saat ini, ia masih menyampaikan kepada orang-orang di sekitarnya bahwa keputusan tersebut belum diambil, sementara sejumlah donatur kaya sudah menyatakan tak akan mendukungnya pada 2028.











































📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.