JAKARTA — TRON mengembangkan teknologi tukar baterai mobil listrik bersama Aulton untuk armada komersial di Indonesia. Skema ini menargetkan kendaraan angkutan penumpang dan barang yang kehilangan waktu operasional saat mengisi daya.
Dalam sistem yang disiapkan kedua perusahaan, baterai yang dayanya menipis akan diganti di stasiun otomatis dengan baterai penuh. Prosesnya diklaim memerlukan sekitar 1 hingga 2 menit, jauh lebih singkat daripada menunggu pengisian konvensional yang dapat memakan waktu berjam-jam.
Tukar baterai untuk armada komersial
PT Teknologi Karya Digital Nusa Tbk atau TRON bekerja sama dengan Aulton New Energy Automotive Technology Co., Ltd. untuk mengembangkan layanan tersebut. Kerja sama ini menyasar operator kendaraan yang harus menjaga armadanya tetap berjalan, termasuk perusahaan angkutan penumpang dan barang.
Bagi perusahaan armada, kendaraan yang berhenti berarti waktu layanan berkurang. Jika kendaraan harus mengantre atau menunggu pengisian, jadwal perjalanan berikutnya dapat ikut terdampak. Tukar baterai dirancang untuk memangkas jeda itu: kendaraan masuk ke stasiun, baterai bekas dilepas, lalu baterai terisi dipasang.
Perbedaan waktu menjadi alasan utama teknologi ini ditawarkan untuk penggunaan komersial. Mobil pribadi umumnya dapat dijadwalkan untuk mengisi daya saat tidak digunakan, sementara kendaraan operasional perlu kembali melayani perjalanan. Pada armada yang melakukan perjalanan berulang sepanjang hari, waktu berhenti berpengaruh langsung terhadap kapasitas layanan dan peluang pendapatan.
Sistem digital memantau baterai dan stasiun
Teknologi yang dikembangkan TRON dan Aulton juga dilengkapi pemantauan digital. Sistem itu membantu operator memeriksa kondisi baterai, mengatur siklus pemakaian, serta melihat operasional stasiun pertukaran.
Pemantauan tersebut berkaitan dengan pengelolaan kebutuhan energi armada. Operator dapat menggunakan informasi kondisi baterai dan kegiatan stasiun untuk merencanakan penggunaan kendaraan. Pengaturan ini penting agar kendaraan tersedia sesuai jadwal, bukan sekadar memiliki baterai penuh.
Kerja sama itu juga mempertemukan infrastruktur energi dengan pengelolaan armada. Dengan stasiun yang dapat melayani penukaran cepat dan sistem pemantauan, operator diharapkan lebih leluasa mengatur kapan kendaraan beroperasi. Namun, manfaat praktisnya tetap bergantung pada ketersediaan stasiun dan kecocokan sistem baterai dengan kendaraan yang digunakan.
Waktu berhenti jadi taruhan produktivitas
Dampaknya bagi operator terlihat pada waktu kendaraan kembali bekerja. Jika penukaran berlangsung sesuai klaim 1 hingga 2 menit, armada dapat mengurangi jeda dibanding menunggu pengisian yang berlangsung berjam-jam. Penghematan waktu itu berpotensi membantu kendaraan menyelesaikan lebih banyak perjalanan sesuai pola operasionalnya.
Kecepatan penukaran saja tidak cukup untuk memastikan layanan berjalan lancar. Operator juga perlu mengelola baterai pengganti dan memastikan stasiun tersedia ketika kendaraan membutuhkannya. Karena itu, pemantauan kondisi baterai dan operasional stasiun menjadi bagian penting dari rancangan layanan, bukan fitur tambahan semata.
Presiden Direktur TRON David Santoso mengatakan kolaborasi tersebut diarahkan untuk menjawab kebutuhan ritme kerja armada. “Armada komersial membutuhkan solusi kendaraan listrik yang mampu mengikuti ritme operasional bisnis.
Melalui kolaborasi dengan Aulton, kami ingin membangun ekosistem yang menghubungkan infrastruktur energi dan pengelolaan armada agar kendaraan dapat lebih lama melayani pelanggan, mengurangi waktu berhenti, dan memberikan nilai ekonomi bagi operator,” ujar David dalam keterangan perusahaan pada Jumat (6/11/2026).











































📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.