JAKARTA — Para pelaku pasar emas perlu mencermati pergerakan harga komoditas logam mulia pekan ini. Proyeksi harga diprediksi bergerak fluktuatif di kisaran Rp 2,42 juta hingga Rp 2,68 juta per gram, dipicu oleh dinamika kondisi geopolitik global yang belum mereda.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa potensi koreksi harga tetap membayangi pasar. Pada penutupan akhir pekan lalu, posisi harga logam mulia berada di level Rp 2,57 juta per gram.
Menurut hitungan teknikal, terdapat level support pertama di angka Rp 2,55 juta per gram dan support kedua di Rp 2,42 juta per gram. Jika terjadi penguatan, resisten pertama berada di posisi Rp 2,59 juta per gram dengan level resisten kedua menyentuh Rp 2,68 juta per gram.
Dinamika Pasar Global
Fluktuasi harga emas ini sejalan dengan kondisi pasar global. Ibrahim menjelaskan bahwa harga emas dunia sempat ditutup pada level 4.139 dolar AS per troy ons pada akhir pekan lalu.
Analisis teknikal menunjukkan level support pertama di 4.087 dolar AS per troy ons dan level support kedua di 4.033 dolar AS per troy ons. Di sisi lain, resisten pertama diproyeksikan berada di 4.197 dolar AS per troy ons, dengan level resisten kedua mencapai 4.255 dolar AS per troy ons.
Indeks dolar AS turut memberikan tekanan pada pasar komoditas. Selama pekan ini, indeks tersebut diperkirakan bergerak pada rentang 100,40 hingga 102,80. Selain itu, harga minyak mentah WTI diproyeksikan akan berada di kisaran 84,60 hingga 100 dolar AS per barel, yang secara langsung berpengaruh terhadap instabilitas harga di pasar global.
Ketegangan Geopolitik
Bagi investor emas di Indonesia, memahami faktor pendorong harga menjadi krusial. Ibrahim menyoroti ketegangan di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz dan Selat Al Mandeb, sebagai faktor utama yang memicu gejolak. Meski Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan terkait potensi berakhirnya perang setelah November 2026, kondisi di lapangan masih jauh dari stabil.
Konflik antara Yaman Houthi dan pemerintah Yaman yang masih berlanjut turut memperkeruh suasana. Serangan terhadap kilang minyak Aramco oleh Yaman Houthi memaksa koalisi Arab Saudi, Pakistan, dan Turki untuk terlibat langsung dalam perlawanan terhadap misil dan drone.
Eskalasi ini memicu kekhawatiran bahwa harga minyak dapat menembus level 100 dolar AS per barel, yang pada gilirannya mendorong indeks dolar mendekati level 103.
Melihat volatilitas yang cukup tajam tersebut, Ibrahim mengimbau masyarakat untuk bertindak hati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Bagi masyarakat yang berencana melakukan akumulasi aset, fluktuasi harga saat ini dianggap sebagai momentum yang perlu dimanfaatkan secara cermat sebelum tren harga kembali bergeser mengikuti perkembangan geopolitik di wilayah Timur Tengah.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.