Padahal sejatinya siapapun oknum aparat atau pejabat negara di negeri seolah-olah bisa mengback-up kita dalam perbuatan melawan hukum, sekalipun ia dari kalangan istana dengan membawa lebel R1 dan R2, percayalah tidak ada satupun dari mereka yang menolong kita ketika diri kita tersandung masalah hukum, apalagi persoalannya menjadi sorotan publik mereka yang kita anggap hebat itu akan menghindar, justru kitalah yang akan ditumbalkan untuk menjalani hukuman.
Justru tanpa kita sadari justru kita yang mengajarkan atau membiarkan mereka untuk melanggar aturan yang ada, bahwa dengan tidak malunya mengaku seolah-olah bisa membantu mengkondisikan penambangan ilegal, seperti ungkapan orang Bangka bahwa kita lah ‘tukang ngulon e’.
Pada dasarnya perangai dan abad masyarakat asli daerah Bangka Belitung sangat patuh dan tunduk dengan peraturan yang ada atau takut melawan aturan hukum yang berlaku di negara ini.
Namun dari polemik ini ada pesan yang tersirat kalau pun diri kita masih banyak salah janganlah mencari kesalahan orang lain, dan bangun semangat saling berbagi jaga hati jangan dipenuhi nafsu keserakahan.
Jangan menyenggol sahabatmu jika kamu tidak mau disenggol, mari kita saling mawas diri untuk suasana yang kondusif dan nyaman di negeri Serumpun Sebalai yang kita cintai.
Sesungguhnya sikap dendam dan serakah tidak ada dalam jiwa dan raga orang-orang yang terpilih dan terbaik dalam institusi aparat penegak hukum selalu menjaga keamanan dan kondusifitas di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Akhir kata saya meminta maaf jika ada dalam tulisan ini yang kurang berkenan bagi anda yang membacanya.
Penulis : Meyrest Kurniawan (Kepala KBO Babel)
