Walaupun rumah yang kita huni tampak sempit, tapi jika hati lapang, maka akan terasa luas. Walaupun tubuh sakit, tapi hati sehat, maka akan terasa enak-enak saja. Walaupun badan terasa lemas, tapi hati tetap tegar, maka akan terasa mantap melangkah. Walaupun kendaraan yang dimiliki mereknya murahan, butut dan jadul, tapi suasana hati selalu indah dan ceria, maka akan tetap terhormat dan bersyukur. Walaupun kulit dan wajah imut (item mutlak) alias hitam legam, apalagi cuaca yang kian panas melengking seperti sekarang ini, tapi jika hati jelita (bagus), maka yang tampak adalah kemuliaan dan bercahaya bagi orang yang memandangnya.
Sebaliknya, walaupun rumah lapang, tapi penghuninya berhati sempit, maka akan terasa sempit dan penuh dengan pertengkaran serta suasana akan menjadi panas yang menjalar dalam pribadi setiap penghuninya. Apalah arti makanan enak berkelas, jika hati berkecamuk. Apalah arti berada dalam ruangan ber-AC, jika hati panas mendidih, apalah arti bermobil mewah, jika hati kian merana. Jadi, hati adalah sesuatu yang sangat berharga dan harus terus terpelihara sehingga dada pun menjadi lapang dalam setiap keadaan.
Pesta demokrasi dengan memberikan suara oleh rakyat kepada para calon pemimpin pada Pilkada Serentak 2024 yang pagi ini (27 November 2024) suaranya ditentukan. Nanti, pasca pencoblosan, bagi pasangan dan timses yang merasa meraih suara terbanyak patut bersyukur dan tak perlu berhura-hura secara berlebihan, terutama oleh para timses yang semuanya sudah menyiapkan diri untuk “jual” omongan dan menjajakan “kejumawa-an”. Tak perlu membully di medsos yang justru menunjukkan betapa rendah kualitas diri dalam demokrasi, tak perlu jua menyanjung-nyanjung kandidat Anda berlebihan karena terlalu hina ketika penjilat dilahirkan dari rahim suci seorang ibu. Harus disadari, bahwa sesuatu yang terlalu disanjung dan dipuja akan melahirkan rasa kecewa. Toh, semua pejabat daerah membangun dan berbuat apa saja untuk daerahnya bukanlah dari uang mereka, tapi uang rakyat, jadi tak perku dibanggakan apa yang sudah dan akan mereka lakukan. Justru sanjunglah orang-orang yang berbuat dan membangun bukan dari uang negara (rakyat) serta tak menikmati fasilitas negara seperti rumah, mobil, gaji, dana operasional dan sebagainya.
