Meski demikian, Yose mengingatkan bahwa Indonesia yang kerap disebut sebagai ‘Komodo Dragon’ karena ketangguhan ekonominya, kini menghadapi tekanan yang cukup besar dari dalam negeri.
“Kondisi domestik kita tidak baik-baik saja. Kita menghadapi berbagai masalah mulai dari persoalan fiskal, moneter, neraca eksternal, sektor riil, iklim usaha, ketenagakerjaan hingga daya beli masyarakat” jelasnya.
Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa arah kebijakan ekonomi yang tidak menjanjikan turut memperbesar risiko tersebut. Yose juga menyoroti fenomena melemahnya dolar Amerika Serikat (US Dollar) sejak Januari 2025 terhadap berbagai mata uang dunia.
“Ini menjadi sinyal yang perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada stabilitas ekonomi kita, terutama di sektor eksternal” tegasnya.
Dalam paparannya, Yose menekankan bahwa ekonomi berbiaya tinggi (high-cost economy) di Indonesia masih menjadi hambatan besar. Salah satu penyebab utamanya adalah tingginya tingkat korupsi yang tidak diimbangi dengan kepastian hukum.
“Ketidakpastian diperburuk dengan tumpukan regulasi yang luar biasa banyak dan sering berubah-ubah. Hanya di tingkat kementerian, tercatat hampir 19.000 peraturan, belum lagi di daerah” ujarnya.
Yose kemudian membandingkan pendekatan pembangunan ekonomi Indonesia dengan Tiongkok.
“Tiongkok sejak awal membuka diri dan mendorong produktivitas. Sebaliknya, kita sering merasa sudah besar dan malah menutup diri, seperti dalam kebijakan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) yang justru tidak banyak berkontribusi pada sektor industri” katanya.
Sebagai contoh, Yose menyinggung mundurnya LG dari proyek investasi baterai di Indonesia yang nilainya hampir mencapai 10 miliar dolar AS.
“Alasan keluarnya adalah ketidakcocokan dengan permintaan Indonesia agar rantai pasok (supply chain) baterai tetap didominasi oleh sektor pertambangan dalam negeri” ujarnya.
Menutup paparannya, Yose Rizal Damuri menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam merancang kebijakan ekonomi.
“Kita harus mengubah cara pandang dari kebijakan yang terlalu inward looking dan cenderung memberatkan, agar tidak semakin memperburuk kondisi pasar tenaga kerja dan memperlemah perekonomian nasional,” tutupnya.(*)
