Yang sedang diuji pasar saat ini, kata Fakhrul, bukan hanya kekuatan fundamental, melainkan juga kredibilitas kebijakan dan keberadaan policy anchor—jangkar kebijakan yang mampu memberi kepastian di tengah era global yang semakin volatil.
Tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi eksternal, penguatan dolar Amerika Serikat yang didorong kebijakan moneter ketat The Federal Reserve, tingginya imbal hasil US Treasury yang menarik modal global kembali ke AS, ketegangan geopolitik yang terus memanas, serta fragmentasi perdagangan dunia menjadi faktor dominan.
Sementara dari dalam negeri, pasar melihat adanya tantangan sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan moneter. Ketika pemerintah memilih menjaga inflasi tetap rendah dan penyesuaian harga sangat terbatas, Bank Indonesia dan rupiah harus bekerja jauh lebih keras untuk menyerap tekanan ekonomi.
“Ketika fiskal memilih menjaga inflasi tetap rendah dan penyesuaian harga sangat terbatas, maka BI dan rupiah harus bekerja jauh lebih keras,” kata Fakhrul.
BI Rate Naik 50 Basis Poin, Sinyal Pre-Emptive
Dalam konteks ini, langkah Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi sinyal penting untuk menjaga kredibilitas kebijakan dan stabilitas pasar. Kenaikan suku bunga acuan ini dipandang sebagai upaya pre-emptive—langkah pencegahan sebelum tekanan inflasi benar-benar muncul dan meluas.
Fakhrul menilai pendekatan yang lebih ahead the curve diperlukan agar tekanan terhadap nilai tukar tidak berlarut-larut dan menjalar ke sektor ekonomi lainnya. “Kadang bank sentral harus bertindak sebelum inflasi benar-benar muncul,” ujarnya.
Namun ia menekankan, stabilisasi rupiah tidak dapat dibebankan kepada Bank Indonesia semata. Yang dibutuhkan saat ini adalah balanced policy mix—koordinasi kebijakan yang lebih seimbang antara fiskal dan moneter. Pasar ingin melihat pemerintah dan bank sentral bergerak dalam arah yang sama, melalui komunikasi kebijakan yang kuat serta roadmap penyesuaian ekonomi yang jelas dan terukur.
“Pasar ingin melihat burden sharing yang lebih seimbang. Jangan semua tekanan ditanggung rupiah dan BI,” jelas Fakhrul.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.