Tekanan nilai tukar dan tingginya yield obligasi mulai memberi dampak nyata terhadap sektor riil. Banyak industri manufaktur dan sektor domestik masih bergantung pada impor bahan baku, mesin, energi, serta pembiayaan dalam dolar. Ketika rupiah melemah bersamaan dengan tingginya biaya dana, dunia usaha menghadapi tekanan ganda yang mengancam profitabilitas dan ekspansi.
“Kalau kondisi seperti ini terlalu lama, maka perusahaan tidak hanya menghadapi tekanan margin, tetapi juga mulai menahan ekspansi, mengurangi investasi, dan lebih defensif terhadap perekrutan tenaga kerja,” ujar Fakhrul.
Meski demikian, dampaknya tidak seragam di semua sektor. Sektor komoditas berbasis ekspor seperti kelapa sawit, batu bara, dan nikel cenderung lebih diuntungkan karena pendapatan mereka berbasis dolar. Sementara sektor yang bergantung pada impor, memiliki leverage tinggi, dan sensitif terhadap suku bunga—seperti properti, ritel, dan manufaktur berbahan baku impor—menghadapi tekanan jauh lebih besar.
Fakhrul menilai dunia usaha perlu mengedepankan strategi defensif dengan menjaga likuiditas, mengelola risiko valuta asing secara lebih aktif, dan tidak terlalu agresif dalam ekspansi hingga situasi makro lebih stabil.
Perlu Koordinasi Kebijakan yang Lebih Tegas
Ke depan, stabilisasi rupiah memerlukan lebih dari sekadar intervensi pasar atau kenaikan suku bunga. Yang dibutuhkan adalah koordinasi kebijakan yang lebih tegas antara pemerintah dan bank sentral, disertai komunikasi publik yang jelas tentang arah kebijakan ekonomi jangka menengah.
Pemerintah perlu mempertimbangkan penyesuaian harga energi secara bertahap namun terukur, agar beban ekonomi tidak hanya tertumpu pada nilai tukar. Di sisi lain, Bank Indonesia perlu terus menjaga konsistensi kebijakan moneter yang kredibel di mata pasar global, termasuk melalui intervensi pasar valuta asing yang terukur dan efektif.
Tantangan utama adalah menjaga keseimbangan antara menjaga daya beli masyarakat, menstabilkan nilai tukar, dan memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan. Dalam lanskap global yang semakin tidak pasti—ditandai ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan, dan volatilitas pasar keuangan—Indonesia membutuhkan kebijakan ekonomi yang tidak hanya reaktif, tetapi juga antisipatif dan terkoordinasi dengan baik.
Fakhrul menyimpulkan, pelemahan rupiah saat ini adalah fenomena yang kompleks dan tidak bisa disederhanakan sebagai kegagalan ekonomi. “Ini adalah tekanan global yang sedang kita kelola. Yang penting adalah bagaimana kita merespons dengan kebijakan yang kredibel, terkoordinasi, dan konsisten,” tutupnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.