Mendengar jawaban tersebut, bukan main marahnya si anak berekor. Sekejap kemudian ia telah berhasil menangkap Tumang yang berdiri tak jauh dari ibunya. Dalam hitungan detik terdengar lengkingan pendek tapi nyaring si Tumang. Sekejap kemudian, nampak anjing itu telah terkapar di atas tanah. Kepalanya hancur, akibat bantingan keras si anak. Tumang, anjing kesayangan sang putri yang adalah ayah biologis si anak berekor, mati mengenaskan akibat di banting anaknya sendiri. Bangkainya lalu di hanyutkan di sungai.
Begitulah, waktu pun terus berjalan. Si anak berekor telah tumbuh menjadi seorang pemuda normal yang gagah perkasa, namun ekornya makin panjang. Satu hari, kepada ibunya, pemuda berekor itu minta izin untuk menjelajahi daerah lain. Oleh ibunya ia di sarankan membuat perahu.
Singkat cerita, setelah perahu dan berbagai perlengkapan serta perbekalan selesai di siapkan, pemuda berekor pun berangkat berlayar mengarungi samudra tanpa tahu arah tujuan pasti hingga akhirnya mencapai daratan pulau Sumatra yang masuk wilayah kekuasaan Raja Palembang. Mengetahui daerah tempatnya mendarat termasuk wilayah kekuasaan Raja Palembang, pemuda berekor itu pun datang menghadap ke istana. Kepada Raja Palembang ia mengajukan diri untuk menjadi raja. Raja Palembang setuju dengan usulan tersebut. Namun syaratnya, ia harus memerintah di daerah asalnya, dan daerah tersebut menjadi taklukan Raja Palembang.
Syarat Raja Palembang itu di terima pemuda berekor hingga jadilah ia sebagai seorang Raja di daerah asalnya yang kemudian terkenal dengan Raja Berekor. Namun, sebelum kembali ke daerah asalnya, ia di bekali perlengkapan secukupnya dan rakyat berasal dari daerah taklukan Raja Palembang. Konon jumlahnya setara dengan delapan gantang butir padi. Dikisahkan setiba di Belitung, Raja Berekor mendirikan istana di sekitar Aik Bebulak, Kelekak Usang kearah perawas, sejajar dengan aliran sungai Cerucuk yang melintasi Kampung Perawas sekarang ini. Singgasananya terbuat dari sebuah tempayan besar. Di atas tempayan besar itulah di letakan satu keping papan dari kayu ulin yang di beri lobang sebagai tempatnya memasukan ekor ketika duduk di singgasana.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.